Showing posts with label tauhid. Show all posts
Showing posts with label tauhid. Show all posts

Tuesday, May 29, 2018

Syubhat Abdul Qadir Jawaz!


Berdakwah harus dari bawah, bukan dengan menghasung rakyat kudeta Penguasa.
Lihat dakwah Musa, Ibrahim, Muhammad!
Apa disuruh menurunkan penguasa?

Jawaban:
Benar wahai keledai, Rasulullah tidak menyuruh umat Islam mengkudeta Herkules dari kekuasaannya, dia mengirim delegasi, dan surat Untuk menawarkan Islam kepadanya, jika menolak maka dengan jizyah, jika menolak maka dengan Perang!
Tahapan mana yang telah kamu lalui dari tahapan syar'i ini?
Pernahkah Rasulullah berdakwah kemudian meninggalkan jihad?
Benar wahai keledai, Ibrahim tidak menghasung Rakyat mengkudeta Namrud, namun Ibrahim tidak diam ketika berhala itu disembah selain Allah, Ibrahim berdebat hingga membungkam sang raja yang mengaku tuhan selain Allah, yang akhirnya mengakibatkannya dibakar dalam api.
Tahapan Ibrahim mana yang telah engkau lalui wahai keledai?
Engkau mendatangi si najis jokowi, engkau mendebatnya? Engkau bungkam dia dengan dalil syar'i tentang batilnya hukum buatan?
Benar wahai keledai, Musa tidak mengkudeta Fir'aun, benar wahai keledai, Musa dan Harun pergi kepada fir'aun dan bertutur kata dengan lembut, lemah lembut yang tidak menentang aqidah, lemah lembut yang tidak menjual ayat Allah, lemah lembut yang tetap menentang kecongkakan firaun, sehingga akhirnya Musa dan Kaumnya dikejar oleh Firaun dan bala temtaranya hingga terpojok di pinggir lautan, dan akhirnya Allah menampakkan mukjizatNya dengan membelah lautan, dan menenggelamkan firaun dalam lautan serta bala tentaranya.
Manhaj Musa yang mana yang telah kamu lalui wahai keledai Murjiah?
Sungguh aku mampu atas izin Allah saja untuk membantahmu dengan video durasi berjam-jam, namun semua itu hanya akan menambah kemunafikanmu, yang menyembunyikan sebagian besar ilmu dan menampakkan sebagian kecilnya.
Maka cukuplah sambil berbaring aku tulis risalah singkat ini untuk membongkar puluhan menit durasi kedunguanmu.

Wednesday, May 31, 2017

KEUTAMAAN MENGETAHUI MAKNA KALIMAT TAUHID

beautiful nature

🌿. KEUTAMAAN MENGETAHUI MAKNA KALIMAT TAUHID👇
Dijamin masuk Jannah.

Kalimat Tauhid:  لا إله إلا الله

💬. Dari Shahabat Utsman bin ‘Affan rodhiyallahu ‘anhu; Beliau berkata: “ Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 «مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، دَخَلَ الْجَنَّةَ

”Barangsiapa meninggal dalam keadaan tahu bahwasanya:
Tidak ada tuhan (yang berhak diibadahi) kecuali (hanya) Allah, Dia (pasti) masuk Jannah.”
__________
📚 [HR. Muslim no.26-(43)]
📎 Derajat Hadits: Shohih.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk mengetahui dan memahaminya. Aamiin.

Wallahu a'lam

#Jangan_lupa...
#Berbagi_untuk_sesama

Sunday, May 21, 2017

Kaidah - Kaidah Takfir #4

Takfir sembarangan

*Dalil yang Qath'i*

Adapun dalil-dalil  syar'i yang qath'i dilalah, yakni pasti penunjukannya terhadap kufur akbar, contohnya adalah:

Allah _subhaanahu wa ta'aala_ berfirman:

ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ
"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…". (At Taubah : 65-66)

Di sini Allah menegaskan bahwa mereka kafir setelah beriman, maka ini adalah _kufur akbar_.

Juga firman Allah _subhaanahu wa ta'aala_:

ﻭَﺩَﺧَﻞَ ﺟَﻨَّﺘَﻪُ ﻭَﻫُﻮَ ﻇَﺎﻟِﻢٌ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﺎ ﺃَﻇُﻦُّ ﺃَﻥْ ﺗَﺒِﻴﺪَ ﻫَٰﺬِﻩِ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻇُﻦُّ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔَ ﻗَﺎﺋِﻤَﺔً ﻭَﻟَﺌِﻦْ ﺭُﺩِﺩْﺕُ ﺇِﻟَﻰٰ ﺭَﺑِّﻲ ﻟَﺄَﺟِﺪَﻥَّ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻣُﻨْﻘَﻠَﺒًﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﺻَﺎﺣِﺒُﻪُ ﻭَﻫُﻮَ ﻳُﺤَﺎﻭِﺭُﻩُ ﺃَﻛَﻔَﺮْﺕَ ﺑِﺎﻟَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻘَﻚَ ﻣِﻦْ ﺗُﺮَﺍﺏٍ ﺛُﻢَّ ﻣِﻦْ ﻧُﻄْﻔَﺔٍ ﺛُﻢَّ ﺳَﻮَّﺍﻙَ ﺭَﺟُﻠًﺎ
"Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: 'Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku di kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu'. Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya, sedang dia bercakap-cakap dengannya: 'Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?'" (QS. Al-Kahfi: 35-37)

Allah menegaskan bahwa orang itu kafir kepada Allah, maksudnya di sini adalah kufur akbar.

Contoh lainnya adalah firman Allah subhaanahu wa ta'aala tentang orang yang menyeru kepada selain Allah untuk melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh selain Allah subhaanahu wa ta'aala:
ﺫَٰﻟِﻜُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺭَﺑُّﻜُﻢْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ ۚ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺗَﺪْﻋُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻧِﻪِ ﻣَﺎ ﻳَﻤْﻠِﻜُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﻗِﻄْﻤِﻴﺮٍ ﺇِﻥْ ﺗَﺪْﻋُﻮﻫُﻢْ ﻟَﺎ ﻳَﺴْﻤَﻌُﻮﺍ ﺩُﻋَﺎﺀَﻛُﻢْ ﻭَﻟَﻮْ ﺳَﻤِﻌُﻮﺍ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﺠَﺎﺑُﻮﺍ ﻟَﻜُﻢْ ۖ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻳَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺸِﺮْﻛِﻜُﻢْ
_"Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu". (QS. Fathir: 13-14)_

Juga firman Allah _subhaanahu wa ta'aala_:
ﻟَﻪُ ﺩَﻋْﻮَﺓُ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ۖ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻧِﻪِ ﻟَﺎ ﻳَﺴْﺘَﺠِﻴﺒُﻮﻥَ ﻟَﻬُﻢْ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﺇِﻟَّﺎ ﻛَﺒَﺎﺳِﻂِ ﻛَﻔَّﻴْﻪِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﻟِﻴَﺒْﻠُﻎَ ﻓَﺎﻩُ ﻭَﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺑِﺒَﺎﻟِﻐِﻪِ ۚ ﻭَﻣَﺎ ﺩُﻋَﺎﺀُ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ ﺇِﻟَّﺎ ﻓِﻲ ﺿَﻠَﺎﻝٍ
_"Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka". (QS. Ar-Ra'd: 14)_.

*Ketentuan Umum*

✔️ Setiap kata "kafir" yang berbentuk isim ma'rifat, yakni bertanda alif dan lam (ال), dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, maka ia bermakna kufur akbar. Misalnya seperti lafal: al-kufru, al-kaafir, al-kuffaar, al-kaafiruun dan al-kawaafir. Karena alif dan lam menunjukkan bahwa isim (kata benda) tersebut mencakup makna yang sempurna. Tidak ada perselisihan di kalangan ahli ilmu dan ahli bahasa mengenai hal ini.

✔️ Setiap kata "kafir" yang terdapat dalam Al-Qur'an, maka ia bermakna _kufur akbar, baik berbentuk isim, fi'il (kata kerja), atau mashdar (kata dasar), karena lafal-lafal Al-Qur'an adalah paten (baku). Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian terhadap satuan-satuan lafal Al-Qur'an. Bahkan kata "kufur" yang terdapat dalam konteks kufur nikmat sekalipun, ia juga bermakna kufur akbar, sebagaimana yang tertera dalam surat Ibrahim ayat 28 dan An-Nahl ayat 112. Termasuk kata "kufur" yang digunakan secara lughawy, tafsirnya adalah kufur akbar secara syar'i, sebagaimana yang tertera dalam suray Al-Hadid ayat 20.

✔️ Selanjutnya adalah kata-kata kufur yang digunakan dalam As-Sunnah. Apabila kata "kufur" ini berbentuk isim ma'rifat, yakni bertanda alif dan lam (ال), maka ia adalah kufur akbar. Contohnya hadits:

ﺇِﻥَّ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺸِﺮْﻙِ ﻭَﺍﻟﻜُﻔﺮِ ﺗَﺮْﻙَ ﺍﻟﺼَّﻼﺓ
“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat ” (HR. Muslim)

Adapun jika bentuknya selain ini, hukum asalnya adalah kufur akbar, kecuali jika ada qarinah (penjelasan) yang memalingkan maknanya menjadi kufur ashghar. Dalilnya adalah hadits tentang kufranul 'asyir (ingkar kepada suami) yanh telah kita bahas sebelumnya. Coba anda perhatikan tatkala Rasulullah shallAllahu 'alaihi wa sallam bersabda, bahwa mereka (para wanita) telah kafir, lantas para sahabat bertanya, "Apakah mereka kafir (ingkar) kepada Allah?", hal ini menunjukkan, bahwa kata "kufur" apabila disebut begitu saja, maka maknanya langsung mengarah kepada kufur akbar, kecuali jika ada qarinah yang memalingkannya kepada kufur ashghar sebagaimana yang terdapat dalam contoh-contoh di atas.

Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan bin Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, "Lafadz azh-zhulm (kezaliman), al-ma'shiah (kemaksiatan), al-fujur (kejahatan), al-fusuq (kefasikan), al-muwalah (loyalitas), al-mu'adah (permusuhan), ar-rukun (kecenderungan), asy-syirk (kesyirikan) dan lafadz-lafadz lainnya yang ada dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, terkadang mengandung makna dan hakikat yang mutlaq, terkadang juga muthlaqul haqiqah (sekedar memiliki makna saja). Menurut para ahli ushul, makna asalnya adalah yang pertama, sedangkan yang kedua tidak dipakai kecuali jika ada qarinah, baik lafadz maupun makna. Hal itu bisa diketahui dengan melihat penjelasan Nabi atau dengan penafsiran sunnah. Allah subhaanahu wa ta'aala berfirman:

ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺭْﺳَﻠْﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺭَﺳُﻮﻝٍ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﻠِﺴَﺎﻥِ ﻗَﻮْﻣِﻪِ ﻟِﻴُﺒَﻴِّﻦَ ﻟَﻬُﻢْ ۖ
_"Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya untuk memberikan penjelasan kepada mereka". (QS. Ibrahim: 4). (Ar-Rasail Mufidah: 21-22)_.

Bersambung, _in sya'a Allah...,

Diambil dari kitab:
الجامع في طلب العلم الشرف

Friday, May 19, 2017

Buih Pasti Akan Terhempas ke Tepian


Buih Pasti Akan Terhempas Ke Tepian
Oleh: Abu usamah JR
فَأَمَّا ٱلزَّبَدُ فَيَذۡهَبُ جُفَآءٗۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَيَمۡكُثُ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ
“Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya, tetapi yang bermanfaat bagi manusia akan tetap ada di bumi. Demikian Allah membuat perumpamaan.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 17)

Kancah perjuangan menegakkan dienullah laksana gelombang di lautan. Ada masa-masa lautan mengalami pasang surut, ada masa lautan bergelombang dahsyat disertai badai dan kadang pula lautan mengalami masa-masa teduh. Itulah kancah perjuangan menegakkan dienullah. Ada di antara pelakunya yang tetap bertahan dalam pasang surutnya gelombang, namun tidak sedikit yang pada akhirnya muncul kepermukaan di atas gelombang dan menjadi buih lalu terhempas ke tepian tanpa ada guna.


Proses penyaringan untuk memisahkan antara orang-orang yang beriman secara jujur dan pendusta (munafik) telah terjadi sejak para Rasul diutus untuk menyerukan dienullah. Kisah Nabi Musa ‘alaihissalam bersama bani Israil adalah kisah yang paling banyak disebut secara berulang di dalam Al-Qur’an. Di dalam kisah-kisah tersebut terdapat banyak dan mengandung pesan bahwa perjalanan umat ini akan mengalami kemiripan dengan sejarah bani Israil. Jika bani Israil mengalami banyak ujian untuk memisahkan antara mereka yang jujur dengan yang dusta, maka hal yang sama juga akan dialami oleh umat ini.

Jika kita memperhatikan kisah bani Israil di dalam Al-Qur’an maka akan kita temukan banyak fitnah (ujian) yang menimpa mereka, di antaranya:
-. Pembunuhan terhadap bayi laki-laki oleh Fir’aun dan bala tentaranya,
-. Pemenjaraan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang beriman,
-. Ujian larangan pergi melaut (mencari ikan) pada hari sabtu,
-. Ujian berupa perintah penyembelihan sapi betina,
-. Pembunuhan terhadap para tukang sihir yang bertaubat dan beriman oleh Fir’aun dan bala tentaranya,
-. Pengejaran bani Israil dan Nabi Musa ‘alaihissalam oleh bala tentara Fir’aun,
-. Fitnah dengan munculnya Samiri yang membuat anak sapi dari emas yang bisa berbicara dan kemudian disembah,
-. Fitnah ulama jahat yang bernama Bul’am bin Baurah,
-. Perintah untuk berperang ketika memasuki Baitul Maqdis,
-. Ujian dengan diturunkannya makanan dari langit, dan lain-lain.

Dan ujian juga telah menimpa atas generasi Islam pertama yang mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjuangan. Kerasnya ujian telah mereka alami sejak komunitas kaum muslimin pertama terbentuk di Mekkah. Bagaimana kerasnya ujian yang menimpa mereka digambarkan oleh Allah dalam firmanNya:

أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ
“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah [2] : 214)

Kerasnya ujian yang dialami generasi pertama Islam berupa intimidasi dari kaum kafir Quraisy, telah terjadi sejak masa dakwah secara sembunyi-sembunyi. Dan semakin keras ketika memasuki masa dakwah secara terang-terangan. Hingga akhirnya untuk menyelamatkan iman mereka, maka hijrah meninggalkan negerinya ke Habasyah menjadi solusi ketika itu. Dan kemudian disusul dengan perintah mewajibkan untuk berhijrah ke Madinah ketika komunitas muslim yang kuat telah terbentuk di Madinah. Hijrah itu sendiri adalah ujian bagi orang-orang beriman untuk membuktikan sejauh mana kecintaan mereka terhadap dienullah.

Dan tatkala kaum muslimin telah mampu menegakkan Daulah Islam pertama di Madinah, ujian tidak kunjung juga berhenti. Sebab kaum kafir tidak menginginkan eksisnya komunitas muslim, apalagi memiliki sebuah negara yang berdaulat. Maka ujian masih datang silih berganti, berupa peperangan dengan kaum kafir dalam banyak medan laga. Dan peperangan itu sendiri adalah ujian untuk memisahkan antara orang-orang yang beriman dan kaum munafik yang berada dalam barisan kaum muslimin.

Bahkan generasi pertama kaum muslimin pernah mengalami masa-masa genting dan kritis, yaitu ketika menghadapi pengeroyokan dari kaum kafir dalam Perang Ahzab. Dan peperangan-peperangan setelahnya pun tak kalah sengit dan tak kalah dahsyat. Dan setelah masa-masa genting dan sulit terlewati, akhirnya kemenangan dan penaklukan besar diraih oleh kaum muslimin. Futuh Mekkah menjadi kemenangan yang seakan menghapus duka lara yang selama dua dekade menyesakkan dada-dada kaum muslimin. Begitulah, hadiah indah selalu Allah berikan kepada para pemenang di akhir ujian. Adapun para pecundang sudah lama hengkang dari gelanggang perjuangan.

Apa yang pernah dialami oleh kaum beriman pada kurun waktu yang lalu akan juga dialami oleh kaum beriman pada setiap kurun setelahnya. Ujian yang sama pun akan dialami oleh kaum beriman pada akhir zaman. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan dalam banyak haditsnya, akan datangnya berbagai macam fitnah yang akan menimpa umat pada akhir zaman. Sehingga setelah berlalu satu fitnah, akan disusul fitnah selanjutnya, begitu seterusnya. Dan tatkala berlalu seluruh fitnah, maka masa kejayaan dan keemasan Islam akan kembali melalui tangan-tangan generasi tangguh dan pemenang.

Dan kita adalah umat yang hidup di akhir zaman, yang mana potongan-potongan fitnah silih berganti bergulir di tengah kehidupan kita. Belum berlalu sebuah fitnah sudah disusul dengan fitnah yang baru yang tak kalah dahsyat. Saking gelapnya fitnah yang menerpa, tidak sedikit orang yang sebelumnya melihat tiba-tiba menjadi buta seketika. Sedang orang yang awalnya sudah rabun, kian buta matanya dari melihat kebenaran.

Dan fitnah yang menimpa orang-orang yang beriman yang menempuh jalan perjuangan tentu tidak sama dengan orang-orang Islam awam atau kebanyakan. Ujian yang menimpa kaum beriman yang berada dalam barisan perjuangan adalah sebagai tamhis (saringan) untuk membersihkan barisan dari kaum munafik dan orang yang tidak bersungguh-sungguh dalam perjuangan. Hal tersebut sebagaimana firmanNya:
مَّا كَانَ ٱللَّهُ لِيَذَرَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ عَلَىٰ مَآ أَنتُمۡ عَلَيۡهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ ٱلۡخَبِيثَ مِنَ ٱلطَّيِّبِۗ
“Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik…” (QS. Ali ‘Imran [3] : 179)

Ketetapan Allah di atas akan terus berlaku hingga kelompok terakhir dari umat ini memerangi Al-Masih Dajjal dibawah kepemimpinan Isa bin Maryam dan Al-Mahdi. Maka apa yang telah dicapai oleh umat ini, pada kurun ini, dengan kembalinya Khilafah ‘ala Minhajjinnubuwah, bukan menjadi akhir dari tamhis. Telah nyata bahwa sampai dengan kembalinya Khilafah ini berbagai ujian telah menyaring setiap orang beriman dan para penempuh jalan perjuangan secara khusus. Maka dengan ujian tersebut telah dimuliakan mereka yang jujur oleh Allah dan telah dihempaskan para pendusta menjadi buih yang tak memiliki arti.

Dalam rentang waktu perjalanan panjang, dari hancurnya kekhilafahan terakhir di Andalusia hingga kembalinya Khilafah pada hari ini, berbagai macam ujian pernah dialami oleh umat ini. Dan masa-masa sulit penuh penderitaan dan kesulitan juga telah dialami oleh para pejuang, dan hingga kini belum juga berakhir. Dalam waktu yang sangat panjang tersebut hingga hari ini, para pejuang tauhid menjadi kelompok yang sedikit dari yang sedikit dan dari yang sedikit. Ia bahkan menjadi kelompok yang paling asing dari mereka yang terasing.

Lahirnya para pejuang pada zaman penuh fitnah ini ternyata melalui proses yang penuh dengan ujian dan rintangan. Bahkan rintangan untuk munculnya seorang pejuang tauhid bukan hanya dari makar kaum kafir, namun juga dari mereka yang mengaku muslim. Selama kurun hampir sepuluh dekade, salah satu pihak yang menjadi penghalang bangkitnya para pemuda Islam untuk berjihad adalah para ulama su’. Mereka adalah para pendusta yang berbaju ahli agama yang mencari makan dengan menjadikan agama sebagai barang dagangan. (Baca tulisan saya yang berjudul: KETIKA SI MUNAFIK DIJADIKAN ULAMA).

Para ulama su’ inilah yang secara aktif menyebarkan syubhat dan menyerukan manhaj sesat kepada kaum muslimin. Sehingga ajaran Islam yang sampai kepada umat adalah ajaran yang telah dimanipulasi bahkan dimodifikasi sesuai dengan hawa nafsu para ulama su’. Akhirnya ajaran Islam yang sampai kepada kaum muslimin, bukan Islam seperti yang difahami dan dipraktekkan oleh generasi Islam pertama yang merupakan hasil kaderisasi dari Rasulullah.

Pokok ajaran Islam yaitu Tauhidullah dijauhkan pembahasannya dari majelis-majelis ilmu. Jika pun dibahas, maka tak lebih dari sekadar kulit-kulitnya saja dan sebatas wacana. Bukan pada bagaimana mempraktekkan ajaran tauhid dalam kehidupan. Para ulama su’ dan da’i-da’i yang tidak jujur menganggap bahwa pembahasan tauhid akan menyebabkan terjadinya perpecahan di kalangan kaum muslimin. Padahal problem utama yang menimpa umat ini adalah kejahilan mereka dalam persoalan tauhid, sehingga kehidupan mereka bertentangan dengan ajaran tauhid. Dan penyakit yang paling mewabah dan paling berbahaya yang menjangkiti umat ini adalah syirik.

Para ulama su’ yang membawa manhaj sesat menipu umat dengan mendakwahkan pemahaman tauhid yang menyelisihi pemahaman Salafus Ummah. Namun para penganut manhaj Irja’ tersebut sekali lagi melakukan penipuan dengan melabeli manhaj dakwahnya sebagai dakwah salaf. Dari kerusakan dalam  memahami tauhid, yang difahami oleh umat sebagai hasil dari dakwahnya para ulama su’, berakibat pada kerusakan-kerusakan dalam memahami persoalan furu’u dien. Maka bencana besar pun menimpa umat ini dalam persoalan dien dan dunia.

Salah satu dari fitnah yang disebarkan oleh ulama su’ kepada umat ini, adalah menyebut para penguasa yang memberlakukan hukuman selain hukum Islam sebagai pemimpin kaum muslimin yang wajib ditaati. Akibat dari pemahaman demikian yang menyebar di kalangan pemuda Islam, maka secara langsung menghalangi mereka dari berjihad untuk menegakkan syariat Islam. Bahkan mereka akan turut bersama penguasa murtad tersebut untuk memerangi para muwahidin yang berjihad menegakkan syariat Islam dengan memerangi penguasa murtad. Para pemuda Islam yang tertipu itu pun mengikuti ucapan-ucapan para ulama su’ yang menyebut para muwahidin dan mujahidin sebagai kaum khawarij.

Syubhat lain yang dihembuskan oleh para ulama su’ adalah menyebutkan bahwa jihad bisa dilakukan jika ada izin dari penguasa. Sementara penguasa yang mereka maksud adalah penguasa yang memberlakukan hukum selain hukum Islam. Maka bagaimana mungkin penguasa yang demikian akan mengizinkan kaum muslimin untuk berjihad? Dengan dua syubhat yang sering diulang-ulang oleh para ulama su’ dan para da’i pendusta, maka hal tersebut cukup untuk menghalangi kaum muslimin dari berjihad di jalan Allah.

Maka sesungguhnya para pemuda Islam yang hari ini meramaikan kancah-kancah jihad yang ada di seluruh dunia, adalah para pemuda yang selamat dari pemahaman sesat yang yang didakwahkan oleh para ulama su’. Mereka adalah para pemuda yang mereguk kemurnian ajaran tauhid seperti yang difahami oleh Salaful Ummah. Dan itu mereka dapatkan dari pengajaran para ulama dan da’i yang menempuh manhaj istiqamah. Para pemuda itu adalah buah dari dakwah tauhid dan dakwah manhaj yang lurus.

Sementara itu pada sisi yang lain, betapa banyak pemuda Islam yang secara dzahir adalah orang-orang yang mencintai Islam dan berperilaku hidup sesuai sunnah. Namun mereka menyia-nyiakan masa mudanya dengan tidak mempergunakannya untuk berjihad. Padahal kesempatan untuk itu terbentang. Tiada hal yang menghalangi mereka untuk berjihad kecuali karena rusaknya manhaj mereka yang dibangun di atas syubhat-syubhat yang rapuh. Mereka adalah hasil dari kaderisasi para ulama su’ dan para da’i pendusta pengikut manhaj Irja’.

Yang lebih mengenaskan lagi adalah para pemuda yang mencintai Islam dan mencintai perjuangan Islam, namun menempuh jalan kesesatan dan kehinaan dalam perjuangannya. Mereka adalah para pemuda yang bernaung di dalam partai-partai berlabel Islam, lalu menempuh jalan demokrasi yang kafir dalam perjuangannya. Para pemuda tersebut hasil dari kaderisasi manhaj bathil lagi syirik yang dibawa oleh Ikhwanul Muslimin (baca: Musyrikin), yang salah satu tokohnya pada hari ini adalah Yusuf Qardhawi.

Masa muda yang hanya sekali ini telah mereka sia-siakan karena mereka telah tertipu oleh para ulama su’ dan da’i pendusta. Sungguh kasihan! Padahal di antara mereka ada para pemuda yang sangat mencintai Islam.

Lihatlah akibat fitnah para ulama su’, ribuan bahkan jutaan para pemuda Islam hanya menjadi buih yang tidak berguna! Masa muda dan potensi mereka tidak memberikan sumbangsih apapun bagi perjuangan Islam menuju kejayaan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menjadi batu sandungan bagi laju kebangkitan dan kejayaan Islam.

Munculnya tandzim-tandzim yang mengusung manhaj bathil juga menjadi fitnah yang menyia-nyiakan potensi umat Islam menuju kejayaaan. Rusaknya manhaj dan jalan yang mereka tempuh membuat jutaan kaum muslimin hanya menjadi buih yang tidak memberikan kontribusi apapun bagi kebangkitan Islam. Lihatlah bagaimana Hizbut Tahrir yang memiliki jutaan pengikut namun tidak pernah sekalipun ‘benderanya’ berkibar di tengah-tengah Medan jihad. Perjuangan menegakkan Khilafah yang mereka kampanyekan hanyalah isapan jempol. Sebab jalan yang mereka tempuh untuk mewujudkannya adalah jalan kebathilan. Dan faktanya hari ini tatkala Khilafah telah terwujud, mereka menjadi penentang dan batu sandungan tegaknya Khilafah. Dan Hizbut Tahrir pun kini ternyata hanyalah gumpalan buih yang tidak lama lagi akan terhempas ke tepian tanpa memiliki arti.
Para pemuda Islam yang selamat dari tipuan para ulama su’ dan dari jerat tandzim-tandzim bathil, mereka itulah yang matanya secara terang melihat kebenaran. Dan merekalah yang kemudian melangkahkan kakinya dengan ringan ke medan-medan jihad. Ya, merekalah yang telah lulus seleksi dan mendapat nominasi sebagai mujahid. Para pemuda inilah yang menjadi pilar-pilar kebangkitan Islam pada hari ini.

Namun tergabungnya seorang hamba dalam barisan para mujahid bukan menjadi akhir dari tamhis/penyaringan. Bahkan ujian dan fitnah yang lebih besar akan menghadang untuk menyeleksi antara yang jujur dan yang dusta, antara yang ikhlas dengan yang riya’, dan memisahkan antara yang mukmin dan yang munafik. Allah ‘azza wa jalla berfirman:
وَلَنَبۡلُوَنَّكُمۡ حَتَّىٰ نَعۡلَمَ ٱلۡمُجَٰهِدِينَ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَنَبۡلُوَاْ أَخۡبَارَكُمۡ
“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu.” (QS. Muhammad [47] : 31)

Dan telah diuji para mujahidin dari dulu hingga sekarang. Ada yang diuji dengan musibah dalam perjuangan berupa penangkapan, pemenjaraan dan pengusiran. Yang lainnya diuji dengan kemelaratan, luka-luka dalam perjuangan dan keterasingan. Dan Allah telah menyelamatkan orang-orang yang ikhlas dan bersabar dengan keistiqamahan dan keteguhan. Sementara itu mereka yang tidak bersabar ataupun yang rusak niatnya akhirnya terhempas dari perjuangan dan menjadi buih yang tidak berguna.

Tidak sedikit para mujahid yang diuji dengan kecintaan pada keluarga, harta dunia, kemewahan dan ketenaran. Yang ikhlas dan teguh dalam pendirian, Allah selamatkan dengan keistiqamahan dalam perjuangan. Namun mereka yang lemah tekadnya dan kuat syahwatnya terhadap dunia, akhirnya meninggalkan almamater mujahid dan menempuh jalan kehinaan. Sebab hanya orang-orang yang kuat tekadnya dan kokoh kesabarannya yang akan menjadi pemenang.

Meluruskan manhaj dengan mengulang terus pelajaran tauhid, menguatkan tekad perjuangan dengan melaksanakan ketaatan membekali diri dengan amal shaleh dan berperilaku sesuai sunnah, menjauhi kemaksiatan dan hal yang sia-sia, senantiasa ikhlas dalam beramal dan tidak memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin, adalah upaya-upaya yang harus ditempuh para mujahidin agar bisa teguh dalam perjuangan. Sehingga semoga dengan semua usaha tersebut Allah mengkaruniakan keistiqamahan dan keteguhan kepada kita dalam perjuangan. Dan Allah memelihara kita dari menjadi buih yang terhempas ke tepian tanpa memiliki arti.

Wallahu musta’an.

30 Rabi’utsani 1438 H

Friday, August 12, 2016

MENGHAPUS SIMBOL – ABU MUSH’AB AS-SURI


الحمد لله الكبير المتعال، والصلاة والسلام على الضحوك القتال، وعلى أهل بيته الطيبين الأطهار، وبعد

Sesungguhnya di antara nikmat Allah Ta’ala yang dikaruniakan terhadap umat Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam adalah Dia akan memperbaharui bagi mereka jama’ahnya dan imamahnya, dan melalui pembaharuan ini Dia menghancurkan berhala-berhala yang diagungkan, dan juga menghapus simbol yang dikuduskan. Kita sejak puluhan tahun dan sejak masa kanak-kanak telah dicekoki faham bahwa pembaharu dien ini di abad yang lalu adalah al-Bana, Rasyid Ridha, al-Maududi, an-Nabhani, al-Kandahlawi dan selain mereka dari para “imam-imam” jahmiah, tasawuf, dan pengikut logika, bahkan dari mereka para penyeru demokrasi dan nasionalisme dengan label “Islam”. Na’udzu billah.

Dan meskipun tidak ada bayi yang terlahir kecuali dalam keadaan fithrah, hanya saja orang tua telah menancapkan simbol-simbol dan berhala-berhala ini ke dalam hati anak-anak, hingga jiwa mereka tidak terima jika simbol-simbol ini direndahkan, walau simbol-simbol ini telah jauh tersesat dan mati di atas apa yang mereka serukan.

Dan di antara nikmat Allah – Jalla wa ‘Ala – adalah dengan menghancurkan sebagian simbol ini dari hati makhluk, dan menjadikan kehancurannya melalui pedang-pedang dan senjata Khilafah dan melalui lisan dan pena para tentaranya, mereka tidak mengecualikan satu simbol pun dari sombol-simbol sesat, mereka runtuhkan berhala al-Ikhwan al-Murtaddin hingga berhala “Salafi Jihadi”. Namun, karena sebagian kaum telah mengecap simbol-simbol ini dan telah menyerap ke dalam hati mereka melalui didikan para “pembesar” mereka, hingga jiwa mereka tidak terima dengan penghancuran yang terus menerus ini.

Maka siapa “Hakim Umat” si dungu yang mengucapkan selamat kepada revolusi “yang dibawa oleh Muhammad Mursi” dan tidak mengkafirkan kaum Rafidhah musyrik lagi najis, bahkan berdebat membela mereka dan menjadikan pena dan lisannya sebagai tameng pelindung dari siapa yang mengincar mereka dengan bom dan sabuk peledak, juga berdebat membela Shahawat Saluliah, nasionalis demokratis dan menyebut mereka sebagai “Mujahidin mulia”, dan menyebut kaum kristen Mesir muharib sebagai “mitra sebangsa”, di saat yang sama menyebut muwahhid mujahid sebagai “neo-Takfiri ekstrim”, meminta mereka untuk keluar dari Syam, kemudian menutup kekufurannya dengan membai’at pembantu intelijen Pakistan, si Dajjal yang telah merilis Statemen Nasionalis mengatas namakan pemimpinnya yang telah meninggal, sekaligus memperlihatkan sikap loyal kepada Thaghut Qatar, Rafidhah Iran dan pemimpin-pemimpin kufur lainnya, dan si dungu Zhawahiri ini tidak malu untuk menyatakan konsistensinya dengan membai’at kelompok nasionalis yang menolak dengan kekuatan (mumtani’ah bisy-syaukah) syariat yang zhahir dan mutawatir.[1]

Juga menghapus simbol “al-Imam asy-Syahid” – Imam sesat dan “Syahid” di jalan Undang-undang buatan – pengikut Asy’ariah, Sufi, nasionalis demokratis Hasan al-Bana, melalui makalah yang disebarkan lewat Majalah Dabiq dengan bahasa Inggris, di mana makalah itu berisi tentang “Mursyid ‘Am” untuk partai dan apa yang mereka seru dari penyatuan agama-agama, mendekatkan antara Sunni dan Rafidhah dan ikut serta dalam dewan undang-undang dan mengagungkan demokrasi, “Hak” berbicara dan “Hak” memeluk agama serta multi partai, peraturan perundang-undangan serta pasifisme yang menentang Jihad, serta mengagungkan Thaghut Mesir serta berfaham Jahmiah yang menghapuskan sikap mengkafirkan. Makalah ini juga menjelaskan, bahwa dengan kesesatan-kesesatan ini tidak mungkin menilai partai ini sebagai pembawa panji tha’ifah manshurah yang akan menyerahkannya kepada orang-orang setelahnya! Namun partai ini adalah partai murtad dan wajib bagi para anggotanya untuk bertaubat dari kekufuran, dan keadaan sesungguhnya partai ini telah terlihat di masyarakat umum sejak dua dekade terakhir, dalam menjalankan praktek demokrasi dan loyalitas kepada para thaghut dan salibis dan membantu mereka memerangi Islam dan kaum muslimin.

Kemudian makalah ini menyinggung orang-orang yang bersimpati terhadap al-Ikhwan, dari kalangan para pengklaim “Jihad”, juga menyebutkan Zhawahiri dan ajakannya agar siapa yang dia sebut “Mujahidin” bekerjasama bersama Jama’ah “Islamiyyah” yang beramal dalam bidang “Dakwah” (Zhawahiri menyeru mereka untuk bekerjasama antar mereka dalam hal-hal yang mereka sepakati dan untuk saling menasihati dalam hal-hal yang mereka perselisihkan, sebuah kalimat Al-Bana-isme dan Albani-isme yang menyelisihi aqidah Al-wala wal-Bara). Begitu juga, makalah ini menyebutkan si pemilik teori tentang pengalaman, revolusi, perlawanan dan konspirasi Abu Mush’ab As-Suri, yang telah menjadikan Hasan Al-Bana dan pengikutnya sebagai kaum pendahulu yang jujur bagi tha’ifah manshurah di zaman ini! Penulis artikel kemudian membongkar Abu Mush’ab As-Suri dalam kata-katanya yang sesat khusus dalam masalah ini dan ajakannya untuk bekerjasa sama dengan kaum Rafidhah melawan para “Pejuang” dan meninggalkan takfir kepada mereka kepada “Ulama-ulama senior yang telah sampai tingkatan qadhi dalam masalah aqidah dan agama”, penulis juga mengambil bukti dengan perkataan Abu Mush’ab As-Suri yang sangat jelas, dan tidak menukil seluruh apa yang ada di dalam karangannya karena banyaknya, Allahul Musta’an.

Kemudian sebagian orang-orang bodoh yang bersimpati, yang masih terus berbaik sangka kepada “simbol-simbol” ini atas para penulis majalah terhadap perkataan mereka tentang As-Suri, meski pun kesesatannya yang sangat banyak, yang terangkum dalam point-point berikut ini:

  1. Dia mengudzur para thaghut dan orang-orang musyrik dengan udzur jahil (kebodohan), tidak mengkafirkan para thaghut ikhwan, tidak juga orang-orang yang memilih mereka[2], tidak juga orang Rafidhah secara umum tidak juga awam mereka, para quburiyun dan tidak juga “mursyid” mereka.
  2. Dia meremehkan kesesatan Asy-‘Ariyah, Maturidiah, Sufi dan Ikhwan, menghambat dakwah tauhid murni dan aqidah Salafush-Shalih.
  3. Dia meremehkan bahaya ta’ashshub terhadap madzhab, bahkan mengajak untuk taqlid terhadap madzhab penduduk setempat, dan itu menghilangkan sikap ittiba’ kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan sunnahnya.
  4. Dia memperingatkan dengan keras sikap takfir, melalui cara Sururiyah dari murji’ah dan Jahmiah.
  5. Dia terpengaruh dengan teori-teori konspirasi sesat melalui jalan nasionalisme Arab.
  6. Dia memiliki cara tidak ilmiah dalam melontarkan pendapat, di mana dia terpengaruh tulisan-tulisan militer dan gerakan Marxis, mendebat masalah tauhid dan jihad melalui metode perasaan akal murni, kemudian menarik kesimpulan terhadap jihad para muwahhidin dari segi “Percobaan gagal”, lupa terhadap para Ashhabul Ukhdud, dia juga memiliki pandangan pesimis negatif terhadap aktifitas jihad apa pun, dan mengajak kepada apa yang dia sebut sebagai “Perlawanan Revolusi.”

Dan aku heran dengan orang-orang yang kagum terhadap laki-laki ini, meskipun dia hanya seorang “mentor” yang belum pernah ikut dalam “eksperimen” apapun dari berbagai “Eksperimen” yang dia tulis kecuali hanya sebatas di permukaan, dan yang paling terkenal adalah “Eksperimen Suriah”, yakni ketika Adnan ‘Aqlah keluar dari partai Ikhwan dan mengumumkan vonis takfirnya kepada mereka, lalu memerangi Nushairiah, Bathiniah dan Ba’ats Nasionalis hingga dia tertangkap dan dibunuh, sedangkan ketika itu Abu Mush’ab as-Suri berada di Irak meminta berlindng di bawah thaghut Ba’ats yang binasa Saddam Husain, dan beraktifitas di sana bersama tanzhim Al-Ikhwan Suriah, kemudian pergi ke Afghanistan dan bekerja sebagai instruktur dan bepindah-pindah antara Afghanistan dan Spanyol sepanjang masa itu, kemudian berpindah ke Inggris, lalu kembali ke Afghanistan dan menjadi instruktur serta menulis tentang “Eksperimen Aljazair” dan menjadikan media-media kafir sebagai rujukan terbesarnya dalam mengkritik “Eksperimen” ini. Kemudian menulis tentang “Eksperimen Thaliban”, lalu menulis “Eksperimen Bin Laden” setelah peristiwa 11 September – meskipun dia tidak pernah masuk ke dalam Tanzhim Al-Qaeda selama dia menetap di Afghanistan, dan tidak ada “Eksperimen” yang luput dari kritik negatif, sikap pesimis dan mengenyampingkan hasil penting, dan tinggalnya dia di Inggris tidak lepas dari sikap tahakum kepada pengadilan kerajaan Salib ketika dia berseteru dengan surat kabar “Al-Hayat” milik Saluliah (Saudi_pent) pada akhir “90-an”, padahal perseteruan itu hanya masalah tentang makalah yang terdapat dalam koran itu yang mengaitkannya dengan konspirasi “Jam’ah Islamiyyah Musallahah” dan mengarang fatwa yang mengalirkan darah orang-orang yang keluar dari “Jabhah Islamiyyah lil Inqadz” (FIS, Front Islamique du Salut atau Islamic Salvation Front_pent) dan masuk ke dalam “Jama’ah Islamiyyah Musallahah”, maka dia pun segera mengadukan koran itu dengan bertahakum kepada thaghut! Na’udzu billah…[3]

Dan setelah penjelasan ini, berikut ini sebagian kutipan dari perkataan As-Suri dalam berbagai masalah, tapi sebelum itu ingin aku katakan: Akhir-akhir ini telah disandarkan kepadaku makalah-makalah tentang aqidah dan apa yang disebut Takfir “Al-‘Adzir” (Vonis kafir atas orang yang memberi udzur), padahal aku belum pernah menulisnya dan belum pernah membacanya, terakhir yang aku tulis sejak makalah “Fadhihatu asy-Syam wa Kasru al-Ashnam (Skandal Syam dan Menghancurkan Berhala)” hingga makalahku yang ini adalah:

  1. Ar-Radd ‘Ala al-Mukhannats ad-Dayyuts (Bantahan terhadap Banci yang Tidak Cemburu)
  2. Ballighu Nisa`a ash-Shahawat Annahunna Thawaliq (Kabarkan Kepada Istri-istri Shahawat Bahwa Mereka Dicerai)
  3. Ahwalu al-Mubayi’in lil Amwat wa al-Gha`ibin (Keadaan Orang-orang yang Berbai’at kepada Orang yang Telah Mati dan Tidak ada)
  4. As-Safih al-Khirfan Yubayi’u Taghut Thaliban (Si Dungu yang Membai’at Thaghut Thaliban)
  5. Ala Hadzihi Ghadrah Umara Harakat Asy-Syabab (Ketahuilah, ini adalah Pengkhianatan Para Pemimpin Asy-Syabab)
  6. Yahud al-Jihad – Qa’idah azh-Zhawahiri

Maka harap memperhatikan hal ini.

Berikut ini aku sebutkan sebagian makalah as-Suri dengan sedikit komentar ringan:

As-Suri tidak mengkafirkan Rafidhah.

As-Suri berkata: “Dan aku ringkas dari apa yang aku dapatkan petunjuk di dalamnya dalam masalah aqidah dan masalah madzhab, dalam poin-poin berikut ini; … bahwa siapa yang keluar dari keyakinan Ahlussunnah wal-Jam’ah dari kelomok-kelompok yang banyak, seperti syi’ah, murji`ah dan khawarij, dan lain sebagainya dari ahli laa ilaha illallahmaka dia adalah umat Islam dan ahlul-qiblah, tidak dikafirkan secara umum, tidak dinafikan dari mereka sifat Islam dan tidak juga sifat ahlul-qiblah, kecuali sesuai dengan timbangan dan ketentuan (dhawabith) tertentu menurut Ahlussunnah yang dijelaskan oleh para ulama mereka dari terpenuhinya syarat dan hilangnya mawani’ (penghalang), dan ini adalah pekerjaan para ulama tingkat tinggi yang telah mencapai tingkatan qadha` dalam masalah aqidah dan agaman, dan bukan pekerjaan personal seorang muslim dari kalangan bodoh dan awam mereka, sebagaimana juga bukan pekerjaan mereka yang fokus dalam berjihad dan melawan musuh”. (Dakwah Muqawamah/Dakwah Perlawanan).

Dia juga berkata; “Masalah Syi’ah dan kelompok-kelompok di luar Ahlussunnah, para jihadis seluruhnya menganggap bahwa kelompok-kelompok itu masih termasuk umat Islam atau apa yang disebut ahlul-Qiblah … Syi’ah Ja’fariah (Imamiyah): dan mereka adalah mayoritas Syiah di Iran, minoritas Syi’ah di Lebanon, Pakistan, Afghanistan dan Timur Tengah … mayoritas Jihadis menganggap mereka sebagai muslim, Ahlul-Qiblah, sesat dan pelaku bid’ah.” (Dakwah Muqawamah).

Dia juga berkata di dalam apa yang dia sebut “al-‘Aqidah Jihadiyyah wa Dustur al-Muqawamah al-Islamiyyah al-‘Alamiyyah (Ideologi jihad dan Konstitusi Perlawanan Islam Internasional)”: “Dakwah perlawanan Islam Internasional menganggap seluruh muslim yang mengatakan Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah di atas perbedaan madzhab mereka dan kelompok mereka, termasuk ke dalam lingkaran Islam secara umum yang disebut oleh para Fuqaha sebagai Ahlul-Qiblah, dan menganggap perbedaan aqidah, madhzhab dan kelompok harus dikembalikan kepada ulama untuk mengurusnya, dan medan masalah ini adalah dialog dengan kebenaran, bayan dengan hikmah dan peringatan yang baik, dan melarang dari fitnah dan saling bunuh di antara sesama muslim. (Dakwah ini juga) mengajak seluruh muslim dari kalangan Ahlul-Qiblah, baik secara madzhab, jama’ah maupun individu, untuk bekerja sama dalam mengusir penjahat dan jihad terhadap orang kafir yang menghancurkan negeri-negeri kaum muslimin, dan menyeru kepada semua untuk mencabut segala pemicu perselisihan internal, yang tidak mendapatkan manfaat darinya dalam masa-masa seperti ini kecuali musuh kafir yang memerangi negeri kaum muslimin.” (Dakwah Muqawamah).

As-Suri tidak mengkafirkan para thaghut Ikhwan dan orang-orang murtad yang masuk ke dalam syirik demokrasi dan kufur nasionalis:

As-Suri berkata: “Adapun orang yang mempraktekkan demokrasi maka mereka berbeda-beda dan bermacam-macam, sehingga dengan begitu berbeda hukum mereka … akan tetapi secara umum, aku mengikuti pendapat bahwa siapa yang meyakini kufurnya demokrasi, dan bertentangan dorongan filsafatnya serta landasan hukumnya dengan keyakinan Islam dan dien tauhid, akan tetapi dia menjalankannya karena takwil (bab ta’wil) di saat lemah, dan itu adalah satu-satunya jalan yang tersedia untuk merealisasikan maslahat yang dia harapkan demi dakwah, Islam dan kaum muslimin, dan itu adalah jalan yang memungkinkan baginya untuk mencapai kepada penegakan hukum syariat dalam keadaan seperti itu, kemudian menghilangkan apa yang bertentangan dengannya, atau karena itu adalah jalan yang memungkinkan untuk menampakkan kebenaran, amar ma’ruf nahyi munkar, dan menyampaikan suara kebenaran milik umat, dan lain sebagainya, maka orang-orang yang ikhlas dari mereka ini mendapat udzur karena takwil dalam menjalankan demokrasi dan masuk ke dalam lembaganya”. (Dakwah Muqawamah).

“Muncul fenomena negatif dalam pergerakan Thali’ah (yakni Thali’ah Muqatilah_pent), yakni pelanggaran mereka, terlebih Adnan ‘Aqlah dan sebagian muridnya kepada sikap ekstrim, dan terlebih ketika al-Ikhwan mulai menempuh jalan menyimpang itu dalam berkolaborasi dengan media politik baru, setelah ditetapkan oleh al-Ikhwan dari permintaan terus menerus untuk menjebak ath-Thali’ah dan menganggapnya sebagai musuh, maka Adnan ‘Aqlah mengumumkan bahwa dia mengkafirkan para petinggi Ikhwan al-Muslimin dan Jabhah Islamiyyah yang menyatakan persekutuan nasional dan juga apa yang dia bawa dari penyimpangan-penyimpangan … dan meskipun sejumlah banyak orang-orang yang adil mengambil sikap tawaqquf dalam menghadapi jalan yang menjurus kepada saling mengkafirkan ini, Adnan tetap terus di atas sikapnya ini.” (Tsaurah Islamiyyah Jihadiyyah fie Suriya).

Dan dia menganggap di antara “Poin-poin negative” dalam “Eksperimen Thali’ah”: “Penyimpangan Thali’ah di akhir-akhir waktu karena kepungan yang dilakukan al-Ikhwan dan Iraq dan konspirasi dari semua arah, serta apa yang menimpa mereka dari ketidakadilan, kesewenang-wenangan di luar negeri yang membuat mereka bersikap ekstrim. Sikap ekstrim ini menjadi ciri khas yang melekat pada siapa saja yang bergabung dengan thali’ah, media al-Ikhwan memainkan peran utama dalam memperbesar dan memblow up hal ini karena digunakan untuk melawannya. Namun Thali’ah di luar negeri hanya sedikit merasakan hal ini. Dan hal terjauh yang masuk dalam keyakinan Adnan ‘Aqlah dan sebagian temannya adalah kafirnya al-Ikhwan al-Muslimin dan Jabhah Islamiyyah yang telah berfatwa untuk bersekutu dan ridha dengannya baik secara pandangan maupun praktek, dan mengkafirkan siapa saja yang telah tegak hujjah atasnya dan tetap loyal kepada qiyadah dan sekutunya … akan tetapi generalisasi yang dilakukan olehnya (Adnan ‘Aqlah) tidak diragukan lagi adalah hal berlebihan!” [Ats-Tsaurah Al-Islamiyyah fir Suriya].

Penghormatan As-Suri kepada Al-Ikhwan al-Murtaddin dan anggapannya bahwa Tha’ifah Manshurah Mujahid Muwahhid mewarisi panji dari mereka!

As-Suri berkata; “Gerakan Ikhwan al-Muslimin benar-benar dianggap seperti apa yang mereka sebut sebagai induk dari mayoritas gerakan-gerakan dasar dan politik, dan bahkan bagi gerakan jihad di dunia Arab dan Islam” [Dakwah Muqawamah].

Dia juga berkata; “Gerakan Ikhwan al-Muslimin – dalam gambaran umum – merupakan inkubator alami yang memungkinkan untuk melahirkan dan menyebarkan pemikiran seperti ini, dakwah Hasan Al-Banna rahimahullah telah membentuk suasana yang sesuai untuk perkembangan seperti ini, dan tidak ada bukti terkuat akan hal itu dari motto yang meringkas manhajnya “Allah tujuan kami, Rasulullah teladan kami, al-Quran undang-undang kami, Jihad jalan kami, mati di jalan Allah cita-cita tertinggi kami.” … sebagaimana juga praktek jihad dasar yang dilakukannya membentuk bukti lain akan pantasnya gerakan ini menjadi inkubator bagi lahirnya arus dan pemikiran jihad di dalam rahimnya” [Dakwah Muqawamah]

Dia juga berkata; “Telah lahir embrio kebangkitan Islam, berupa seruan perbaikan secara total, dan sisi aqidah jihad hadir di kebanyakannya, dan tidak ada yang lebih awal dari hal ini di banding motto yang sangat populer di dalam induk gerakan Islam dan jantungnya ini, dakwah Ikhwanul-Muslimin dan apa yang terlahir darinya dari gerakan-gerakan di dunia Arab dan dunia Islam, ketika itu motto tersebut adalah: Allah tujuan kami, Rasulullah teladan kami, Al-Quran undang-undang kami, jihad jalan kami, dan mati di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi kami. Aku tidak dapati di dalam sastra para sastrawan atau di dalam karangan para penulis di dalam umat ini di era modern yang lebih lengkap cakupannya terhadap nilai-nilai aqidah jihad dari motto ini, yang mengumpulkan seluruh kelengkapan dien, dasar dan cabangnya.” [Dakwah Muqaamah].

Dia juga berkata; “Akan tetapi, pemikiran gerakan untuk arus jihad dan yang melahirkan pemikiran pertamanya, maksudku adalah pemikiran Ikhwan al-Muslimin, berhembus terhadap dunia Arab dan dunia Islam dari Mesir dan Suriah Syam secara utama, dan pemikiran harakah ini, yang berada di dalam gerakan Ikwan al-Muslimin … merupakan salah satu dari dua bagian komponen dari pemikiran gerakan jihad kontemporer.” [Dakwah Muqawamah]

Dia juga berkata; “Sikap terhadap madrasah-madrasah kebangkitan Islam non-jihadi: Mayoritas Jihadis senior (dan as-Suri menganggap dirinya salah satu dari ini) mengambil sikap hormat terhadap madrasah kebangkitan ini dan para pembesarnya, dan konsisten dengan adab perbedaan pendapat dengan mereka meski jauhnya jarak dan kesenjangan dalam pemikiran dan penerapan, sedangkan mayoritas jihadis yang datang kemudian (Mutaakhkhirin) berada dalam sikap permusuhan, pertentangan dan persaingan dengan mereka yang bersumber dari sikap tertekan dan kehinaan.” [Dakwah Muqawamah]

Dia juga berkata: “Garis-garis dakwah perlawanan Islam global … materi ke 19: Dakwah perlawanan Islam global dianggap sebagai usaha keras setiap orang yang ikhlas dalam kebangkitan Islam secara dakwah, perbaikan, keilmuan, keagamaan dan lain sebagainya, dari menjalankan proyek-proyek syar’i, yang dijalankan oleh setiap madrasah kebangkitan, dari dakwah dan Tabligh, Salafi, Ikhwan al-Muslimin, Hizbut-Tahrir, dan lain sebagainya dari berbagai madrasah kebangkitan Islam … sebagai sebuah kerja keras yang patut disyukuri untuk menjaga dien kaum Muslimin, memperbaiki keadaan mereka, dan menyeru mereka seluruhnya untuk bekerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan dan mendukung perlawanan, usaha keras mereka di dalam dakwan kepada dienullah di anggap sebagai dukungan dan penguat bagi tunas perlawanan di dalam umat, dan penjaga bagi komposisinya, dan mengajak kepada semua pihak untuk mengenyampingkan perbedaan dalam tahapan ini, karena itu semua dapat menghadapkan kaum muslimin seluruhnya kepada bahaya dalam setiap tingkat peradaban.” [Dakwah Muqawamah].

Aku berkata; “Kelompok yang sejak awal pendiriannya menyeru kepada persatuan agama-agama, demokrasi, nasionalisme, undang-undang buatan, multi partai, kebebasan kufur, dan mengagungkan para thaghut dan menolak takfir dan perang … apakah kelompok ini pembaharu tauhid dan jihad? Atau memerangi Islam?

Berpaling dari dakwah tauhid kecuali yang memperkuat “Dakwah Perlawanan”

As-Suri berkata: “Maka bagi kita, terlebih khusus, hari ini perlu untuk konsentrasi terhadap apa yang kita hadapi, dari hal yang berkaitan dengan masalah dakwah perlawanan, baik itu konfrontasi militer jihad, atau politik, media, pemikiran, sastra, atau apa saja yang menyibukkan kita dan menyita kita dari segala bentuk kerja keras, atau memalingkan kita terhadap segala bentuk beban, kita harus menyibukkan diri terhadap masalah-masalah yang telah dibatasi dalam kerangka batasan pergulatan, dan masing-masing telah dimudahkan terhadap apa yang telah diciptakan baginya … setiap pemikiran, pandangan, tingkah laku, perkataan atau perbuatan yang membantu munculnya perlawanan, atau menumbuhkan benihnya dengan bentuk secara langsung, maka itu adalah salah satu tujuan dari berbagai tujuan perlawanan, dia harus mendapat bantuan pendapat, perkatan dan pertolongan. Dan setiap hal yang kontra terhadap hal itu yang dapat menghentikan perlawanan, mengeringkan benihnya dan membantu musuh-musuhnya, maka dakwah muqawamah memiliki sikap untuk melawannya dengan hal yang sesuai, baik dengan bentuk militer, politik, media, atau dengan perantara apa pun yang disyariatkan. Sebagaimana kita wajib untuk tidak membuang sia-sia usaha kita terhadap apa yang tidak ada manfaat di belakangnya dari perkataan dan perbuatan, dan masuk ke dalam persengketaan antara yang haq dan yang bathil, yang benar dan yang salah yang tidak ada ujungnya, wajib bagi kita untuk memperhatikan setiap masalah yang masuk ke dalam batasan lingkaran konflik, adapun masalah bid’ah yang banyak dan tersebar hari ini di tengah kaum muslimin, penyimpangan, qubiriyah, kesesatan, penampakan perbuatan fasik, kemaksiatan … dan lain sebagainya, tidak akan pernah habis dan semua ini berasal dari fenomena hilangnya Imam syar’i, dan tidak ada hukum syariat, yang akan hilang dengan kemunculannya dan akan muncul dengan ketidak adaannya”. [Dakwah Muqawamah].

Andaikan seruannya itu benar, tentu syirik kubur akan dihapuskan dari negeri kaum muslimin sekedar dengan menangnya sebagian orang yang diagungkan oleh As-Suri, akan tetapi syirik kubah ini masih tetap tersebar hingga akhir masa quburiyun dari orang-orang Utsmaniyah, yang diakui oleh As-Suri dengan kesufiannya yang parah tapi dia kemudian menganggapnya sebagai kekhalifahan syar’i terakhir…[4]

Lunaknya As-Suri terhadap masalah perbedaan antara Ahlus-Sunnah dan ahlul-bid’ah (Asy’ariyah, Maturidiyah, bahkan terhadap Sufi quburiyah musyrik).

As-Suri berkata: “Permasalahan ini telah diwarisi dari dua madrasah; Asy’ariyah serta cabang-cabangnya, dan Salafiah atau Ahlul-Hadits serta cabang-cabangnya, hingga keduanya mencoret pihak lainnya dari kelompok Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dan menganggap setiap mereka adalah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dan aqidahnya adalah aqidah firqah najiyah sedangkan kelompok lainnya adalah termasuk kelompok 72 yang berada di neraka. … dan meski para ahlul-hadits sepakat bahwa ini bukan berarti kekal di dalam neraka bagi setiap kelompok-kelompok ini, dan semua yang menisbatkan diri kepadanya adalah ahlul-qiblah dan umat islam, hanya saja dua kelompok ini membatasi bahwa keduanya lah yang berafilisasi kepada Ahlus-sunnah wal-jama’ah, yang memiliki gelar ini dan mencoretnya dari kelompok lain. Persengketaan ini mereda sebagaimana persengketaan lainnya pada masa-masa terakhir karena kesibukan umat dengan penjajahan dan musibahnya, kemudian dengan pemerintahan merdeka penjajah, dan apa yang menyebabkan serangan madzhab-madzhab sekuler, idiologi dan politik modern, karena lemahnya semangat religiusitas umat secara umum pada dekade pertengahan abad ke 20, begitulah, permasalahan ini tertidur dalam tempo yang singkat, namun kembali bangun bersamaan dengan tumbuhnya madrasah kebangkitan Islam modern, dan kembali bersamaan dengan tumbuhnya madrasah gerakan salafi modern dan serangannya terhadap madzhabisme dan Asy’ariah, dan tetap bertahannya kebanyakan madrasah kebangkitan lainnya dengan aqidah Asy’ariyah, apalagi madrasah-madrasah islahiyah (perbaikan), jama’ah tabligh dan dakwah, gerakan sufisme dan lainnya, begitu juga kebanyakan ulama-ulama resmi dan imam-imam masjid serta ulama-ulama madzhab yang empat, di sisi lain kebanyakan jihadis memilih aqidah salafiah, fiqh dalil dan pilihan-pilihan manhaj salaf, maka sampailah akhirnya masalah ini kepada kita, dan ini menjadi salah satu poin penting yang menyita perhatianku untuk menuliskannya dan aku paparkan sekilas aqidah kita dalam dakwah muqawamah (perlawanan) Islam global, karena ini adalah salah satu masalah rumit dalam perjalanan jihad, perlawanan (muqawamah) dan menolak para penjahat, karena dalam gambaran finalnya akan membentuk pintu perpecahan, hizbiyah, fanatik fiqh kemudian merembet kepada pemikiran dan pergerakan, dan penyebab runtuhnya bangunan dari dalam, di dalam barisan kaum muslimin dan di tengah perlawanan pada saat kita disergap kuda-kuda Mongol modern; Amerika dan Zionis dengan rantai tank mereka dan deru pesawat mereka, satelit buatan mereka mengawasi percakapan rahasia dan aktifitas harian kita, meriam mereka menembak di atas kepala kita dari udara, daratan dan lautan, dan jika bukan karena bosan, aku sudah menolak untuk mengisahkan kisah ini; awal perhatianku terhadap masalah ini adalah pada masa jihad orang-orang Arab di Afghanistan, di mana saat itu hadir sejumlah ulama salafi jihadi, dan saingan mereka dari madrasah-madrasah Asy’ariyah, dan ulama-ulama Afghan, Pakistan, dan anak benua India serta Asia tengah dan mayoritas kaum muslimin di wilayah ini yang taklid terhadap orang-orang ini juga pengikut Asy’ariah, dan ini menjadi sebab jurang besar antara mujahidin Arab dan mereka semua, jurang pemisah yang menyebabkan masalah besar di medan itu, pihak Intelijen memungut kesempatan ini sehingga BBC mengambil keuntungan dari masalah Wahabisme di Afghanistan, dan usaha sia-sia Syaikh Abdullah dan yang semisalnya untuk meyakinkan ikhwah agar menunda urusan semisal ini … dan masalah ini tidak perlu dirinci di sini; kemudian setelah itu, di saat aku ikut terlibat dalam memperkuat jihad di Aljazair (1994-1997) yang dipimpin oleh Jamaah Islamiyyah Musallahah (Jamaah Islamiyyah Bersenjata) sebelum penyimpangan pemimpinnya sebagaimana yang aku jelaskan dalam Bab Pertama, sebagian penuntut ilmu kalangan salafi ikut terlibat dalam mendukung Jama’ah Musallahah (Bermanhaj Salafiah), mereka menjadikan minbar media kita, yang mendukung masalah jihad di Aljazair sebagai garis panduan perang kaum salafi terhadap Asy’ariah dan Madzhabisme! Dan itu adalah tragedi lain yang aku lihat sendiri efeknya dengan diriku; kemudian kembali terulang masalah ini pada periode kedua terhadap kaum Afghan-Arab pada masa Taliban, yang menjelma menjadi batu besar yang membatasi para Jihadis Salafi dari orang-orang Arab dan Imarah Syar’iah, di mana amirnya, komandannya di Taliban, serta ulamanya seluruhnya adalah pengikut Asy‘ariah dan bermadzhab Hanafiah, mereka tidak kalah fanatik dengan apa yang ikuti oleh para ikhwan kita yang fanatik dengan peran mereka dalam madzhab Salafiah, dan ini merupakan pengalaman ketiga yang aku hadapi langsung dengan diriku untuk kemudian melihat pentingnya dilema ini yang tidak datang pada waktunya, karena kerasnya serangan musuh yang kita hidup di dalamnya, dan aku ingin mempelajari masalah ini di sini dalam bab khusus dalam masalah aqidah secara umum, dan aqidah jihadi bagi perlawanan secara khusus demi memberikan sumbangsih dalam usaha menghentikan kemudharatannya di dalam barisan jihad kita, dan karena itu adalah masalah aqidah dan dien.”

“Maka aku mempelajarinya dengan sikap inshaf dan netral untuk mencari bagi diriku keyakinan yang benar yang aku harap dengan meyakininya aku mendapat ridha Rabbku, itu yang pertama. Kemudian untuk menyuguhkan apa yang telah aku ringkas kepada para ikhwah mujahidin sebagai nasihat serta kepada siapa saja yang sampai kepadanya hal ini dari kalangan kaum muslimin. Aku telah meringkasnya dari pandanganku di sini ke dalam beberapa poin setelah aku beristikharah kepada Allah untuk meminta kepada-Nya petunjuk, tapi aku akui bahwa aku merasa sangat khawatir dengan pernyataan pendapatku ini karena dua hal: Yang pertama karena masalah ini sangat sensitif dan menyentuh salah satu hal yang paling khsusus dalam kekhususan dien, yang sepanjang sejarah telah menjadi medan persinggungan dan permasalahan. Yang kedua bahwa para jihadis pertengahan yang aku berafiliasi kepadanya kebanyakan bermadzhab salafi, dan di dalamnya terdapat orang yang berta’ashub membabi buta terhadap segala sesuatu yang menyelisihi pendapatnya dalam masalah ini sebagaimana pada mayoritas hal selainnya. Tetapi aku juga mendapat motivasi dari dua hal juga: pertama, daruratnya menyatukan barisan Ahlus-sunnah wal-jama’ah dalam jihad dan perlawanan, dan daruratnya meletakkan masalah ini ke dalam sarungnya minimal antara para mujahidin dan pelaku perlawanan, dan kedua; aku mendapati dan aku kagum terhadap salah satu ulama mujahidin yang sebelumnya telah sampai pada kesimpulan sebagaimana yang aku simpulkan dari usahaku yang lemah sendirian ini, dan dia telah menulisnya dengan penuh ketegasan dan kejelasan, dan tidak diragukan lagi bahwa dia memiliki teman-teman dari kalangan ulama di zaman ini yang belum pernah aku telaah pendapat mereka…”

“… Dan aku tulis sebuah ringkasan yang aku ambil petunjuk darinya dalam masalah aqidah dan masalah madzhab dalam poin-poin berikut ini: dalam masalah ‘aqdiah; 1) Bahwa madzhab salaf dalam masalah i’tiqad yang telah kami jelaskan sebelumnya adalah madzhab yang benar, yang dengannya aku beragama kepada Allah Ta’ala, mereka adalah ahlus-sunnah wal jama’ah dan firqah najiyah insya Allah. 2) Bahwasanya madzhab Asy’ariah atau madzhab khalaf, telah menjauh dari kebenaran dengan mereka menjadikan ta’wil dan tafsir sebagai metode dalam asma’ wa sifat dan tanpa menjalankannya sebagaimana yag dijalankan oleh salaful-ummah, tetapi itu semua tidak mengeluarkan keadaan mereka dari Ahlus-sunnah wal-jama’ah, dan mereka hanya keliru dalam masalah di mana mereka keliru saja, tidak lebih sebagaimana juga banyak keliru para ulama yang menisbatkan dirinya kepada madzhab salaf dari para kalangan ulama hari ini, dan condong kepada madzhab murjiah, terlebih dalam masalah al-Hakimiah, dan tidak ada seorangpun yang memvonis mereka keluar dari ahlus-sunnah sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang hari ini, mereka mengeluarkan dan memasukkan manusia dari Ahlus-sunnah.” (Dakwah Muqawamah).

Dan dalam pembahasan seputar wajibnya berperang di belakang setiap imam – yang baik maupun yang buruk – setelah menyebutkan dinasti Mamalik, Ayubiah, dan melakukan tadlis dan membuat kerancuan pembaca bahwa para komandan mereka dan pemimpin mereka adalah quburiyun, dan itu semua untuk membolehkan perang di bawah panji syirik dan hanya menganggapnya panji bid’ah sesuai ushul mereka yang melakukan udzur dengan kebodohan! Dia berkata: “Maka runtuhlah dinasti Mamalik dan muncullah orang-orang Utsmani, siapakah Utsmani? Tabiat mereka adalah bodoh, dzalim dan keras. Dan Allah telah menjaga Islam lewat mereka, dan menaklukkan ibukota Romawi Konstantinopel lewat tangan mereka … hingga ditinggikan suara adzan di sana dan menjadi tanah air Islam dan ibukota khilafah hingga masa bapak-bapak kita, lalu runtuh tidak lebih hanya tujuh puluh tahun yang lalu saja! Pakah para imam kaum muslimin meninggalkan jihad di belakang mereka hanya karena mereka para sufi pengikut madzhab hanafiah? Apakah mereka meninggalkan jihad terhadap para musuh baik jihad defensif maupun ofensif? Cukup bagi orang-orang Utsmaniah bahwa di antara kebanggaan mereka dahulu mereka tidak mengizinkan bagi kapal-kapal Nashrani untuk melintasi selat Bab Mandib di Yaman hingga teluk Swiss, karena mereka akan melintasi dengan laut Jeddah dan itu termasuk kawasan al-Haram, sehingga bagi mereka seluruh laut merah adalah haram untuk dimasuki orang Nasrani! Dahulu kapal-kapal Utsmani menerima barang-barang dagangan kaum nashrani di Yaman dan memindahkannya untuk mereka ke teluk Swiss dan menyerahkannya kepada mereka di laut Mediterania, dan raja terakhir mereka adalah Sultan Abdul Majid di abad ke tujuh belas, mereka menyebut laut Mediterania sebagai danau Utsmaniah, maka seorang wartawan Inggris bertanya kepadanya; jika laut Mediterania dan pantainya sebelah utara seluruhnya adalah milik kaum Salibis disebut sebagai Danau Utsmaniah, maka bagaimana dengan laut Hitam yang dikelilingi oleh kerajaan Islam dan pasukan Khilafah Utsmaniah secara penuh? Maka Sultan Utsmani ini menjawab; Laut Hitam adalah kolam renang kerajaannku! Begitulah, di tangan mereka kemuliaan Islam, dan kaum muslimin berjihad bersama mereka dan kisah-kisah mereka terkenal”.

Dan hal ini terus seperti itu hingga runtuhlah Daulah Khilafah, dan datanglah pasukan Romawi dalam gelombang salib ke dua di abad 19 dan 20 masehi, terutama pemimpin mereka; Inggris, Perancis, negara-negara Eropa dan Rusia di tengah Asia, maka siapakah yang telah berjihad lebih dari setengah abad dan siapakah yang telah mengusir mereka dari sisi timur dunia Islam? Yang telah berjihad melawan mereka adalah para ulama India dan Pakistan dari para gerakan Deobandi dan Sufi madzhab Hanafiah, mereka telah berjihad melawan Inggris selama 130 tahun dan mengusir mereka, begitu juga pengikut madzhab Hanafi Sufi di Afghanistan, mereka menimpakan pembantaian kepada pasukan Inggris bahkan dalam suatu pertempuran pasukan Inggris membawa pasukan dengan jumlah mencapai sepuluh ribu orang, bahkan ada yang mengatakan hingga tiga puluh ribu orang, dan tidak ada yang selamat kecuali satu orang saja! Mereka membiarkannya hingga menceritakan kisah kejadian kepada ratu Inggris. Adapun pengikut madzhab Hanafiah Sufi di lembah Fergana (di tengah Asia dari negara Uzbekistan) mereka telah menimpakan bencana kepada pasukan Rusia, begitu juga Imam Syamil, pengikut madzhab Syafi’i Asy’ari Sufi telah berjihad melawan Rusia selama 60 tahun di Kaukasus, dan kisahnya sangat masyhur diceritakan, semoga Allah merahmatinya”.

“Adapun di negeri Syam, maka para syaikh sufi Asy’ariah dan ulama-ulama madzhab Hanafi dan Syafi’i telah melakukan jihad melawan Perancis kemudian Inggris. Sedangkan di Libya terjadilah revolusi melalui tangan para syaikh pengikut madzhab Maliki, sufi, Asy’ariah, yang paling terkenal adalah Umar Mukhtar rahimahullah, begitu juga para syaikh dari tarekat Sanusiah sebelum dan sesudahnya. Di Sudan terjadi revolusi al-Mahdiyah yang dilakukan oleh orang-orang Sufi yang berhasil mengusir Inggris, begitu juga di Aljazair terjadi banyak revolusi yang dilakukan oleh para kaum Sufi Malikiah Asy’ariah, yang paling terkenal adalah revolusi Abu Umamah dan revolusi Abdul Qadir al-Jazairi, dan di Tunisia juga seperti itu, telah terjadi revolusi yang dilakukan para ulama Zaitunah, mereka adalah pengikut madzhab Maliki Asy’ariah, untuk melawan Perancis. Di Maroko, Abdul Karim Al-Khaththabi, pengikut madzhab Maliki, Sufi, Asy’ari, melakukan revolusi dan berakhir dengan tegaknya republik Islam yang berlangsung hingga tahun 1963, namun sayangnya mungkin banyak yang tidak mengetahui ini, padahal dia telah menang dalam pertempurannya yang terkenal terhadap tentara lima negara Eropa yang bergabung, dan tawanannya dalam salah satu pertempuran ini yang dikenal dengan pertempuran Anwal yang masyhur, jumlahnya lebih dari sepuluh ribu tawanan, termasuk seratus jenderal dan Marshall dari tentara Eropa hingga Amerika harus ikut campur dan mengatakan ‘Islam telah kembali untuk menaklukkan Eropa’. Namun laki-laki ini telah diperlakukan tidak adil oleh sejarahnya, aku telah membaca sebuah hal yang menakjubkan dari perkataan Mao Che Tung (yang dianggap sebagai pengamat paling terkenal dalam masalah perang gerilya), dia berkata di dalam bukunya “Enam Makalah Militer” tentang al-Khaththabi; “Dia adalah guru militer paling besar dalam perang gerilya”. Padahal dia belum pernah melihatnya, dan hanya mempelajari eksperimen-eksperimannya, di saat yang sama kebanyakan anak-anak kita hari ini tidak mendengar tentang al-Khaththabi, tetapi mereka mengenal Che Guevera dan bintang Academy Star, kisah kehidupan Maradona, cerita Madonna dan kisah Fifi Abduh!”.

“Dan di Afrika benua hitam, terdapat kisah besar namun tidak pernah kita ketahui karena kebodohan kita terhadap sejarah kita sendiri, Islam telah masuk ke Afrika; Libya, Aljazair, Maroko dan Sudan melalui jalan Sufisme yang mengetuk penjajahan sejak lama, dan begini juga keadaan negara-negara di timur Asia dan Malaysia, dari Filipina hingga Indonesia, hingga kemudian jihad akhir kaum muslimin di Afghanistan melalui tangan para pengikut madzhab Hanafiah Sufi yang belum juga membuat kagum kebanyakan ikhwan kita … [Dakwah Muqawamah].

Dia juga berkata; “Masalah Sufisme: Kebanyakan Jihadi terpengaruh dengan manhaj Ibnu Taimiyyah dan Madrasah Salafiah dalam memerangi Madrasah-madrasah Sufi yang menyimpang, dan menganggapnya sebagai manhaj bid’ah dan sesat, dan sebagian bersikap ekstrim dalam masalah ini, dan di saat yang sama ada sebagian minoritas dari mereka yang bersikap adil dalam menghadapi madrasah Tasawuf dan para sufi.” [Dakwah Muqawamah].

Aku berkata; “Jika aku nukil semua apa yang dikatakan oleh As-Suri dalam membela kaum Asy’ariah, Maturudiah dan Sufisme dan mengagungkan simbol mereka – seperti perlawanan Sufisme Nasionalisme terhadap penjajahan Eropa – dan berdebat membela mereka dan merendahkan siapa yang mengingkari kesesatan mereka, maka akan panjanglah makalah ini, Allahul Musta’an. Perlu diketahui, dia tidak tahu hakikat Asy’ariah, dan mengira bahwa perbedaan mereka dengan salaf hanya sebatas dalam masalah Tauhid Asma wa Sifat, dan ini adalah batil, sebagian ulama salaf mengatakan bahwa Asy’ariah adalah “tiruan” Jahmiah[5], mereka berada di jalan Jahm dalam sikap al-jabr, irja` dan kalam, hal yang telah menjerumuskan mereka ke dalam banyak kesesatan dalam: Tauhid, Nubuwat, kalamullah, haqiqatul-iman, al-asbab wal musabbabat, hikmatullah, ahaditsul-ahad dan lain sebagainya … wallahul-Musta’an.

Dan secara dzahir, dari perdebatannya membela sufiyah dia ingin menganggap dirinya sebagai apa yang dia sebut “Jihadi minoritas” yang bersikap “Pertengahan dalam menyikapi madrasah tasawwuf dan orang-orang sufi”, dan perlu diketahui di antara sikap tadlis As-Suri adalah berulang kali dia mengulang kata antara “Salafi jihadi” dan Salafiah Saluliah dalam mengejek orang-orang yang mencela Sufisme ‘Jihadi’ seperti pengakuannya, jika dia berada di Iraq mungkin dia akan mendebat untuk membela “Pasukan Tentara Tarekat Naqsabandiyah”

Ajakan As-Suri untuk berlaku taqlid terhadap madzhab yang diikuti mayoritas masyarakat, agar dapat menarik simpati masyarakat umum, sehingga seorang mujahid mesti meninggalkan sikap mengangkat tangan sebelum ruku’ dan sesudahnya, dan menikahi seorang muslimah tanpa izin walinya di setiap negeri yang bermadzhab Hanafiah, dan tidak bersedekap meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di setiap negeri yang bermadzhab Maliki, dan lain sebagainya;

As-Suri berkata; “Aku nasihatkan kepada para pemuda dan para penuntut ilmu … supaya mereka mengambil pandangan fiqh sesuai dengan madzhab yang mereka (masyarakat_pent) pilih, dan aku nasihatkan terlebih kepada para pemuda kebangkitan dan jihad supaya mengambil pandangan fiqh dengan salah satu madzhab yang diikuti secara mayoritas dalam suatu daerah di mana dia tinggal, dia berdakwah, dia beramal, dia berjihad, hingga dia tidak disekat dengan keanehan mereka dari apa yang biasa dilakukan oleh manusia dalam fiqh dan hukum-hukum yang berlaku di antara mereka dan antara manusia”. [Dakwah Muqawamah]

Dan setelah ini semua, masihkah mujahid mengingkari kecacatan Abu Mush’ab as-Suri!? Atau apakah dia justru bersyukur kepada Allah karen laki-laki ini telah terbongkar dan begitu juga pemikirannya hingga manusia bisa berhati-hati darinya?

Ditulis oleh Abu Maysarah Asy-Syami – ghafarallahu lahu

Selesai diterjemahkan oleh: Usdul Wagha, Ramadhan 1437H



[1] Perlu diketahui, sesungguhnya para amir besar di Khilafah tidaklah terlalu memperhatikan risalah-risalah Azh-Zhawahiri karena panjangnya dan banyaknya, serta karena kesibukan mereka terhadap jihad, kecuali setelah bangkitnya kemurtadan pengkhianat, di mana Zhawahiri mulai menyingkap melalui ucapannya apa yang selama ini tersembunyi dalam tulisan dan dalam sejarah, para amir ini selama bertahun-tahun mengira bahwa dia tidak mengerti keadaan orang-orang Rafidhah dan tidak tahu bahwa syirik akbar adalah landasan mereka, ini disebabkan karena sedikitnya orang-orang Rafidhah di luar Iraq dan Iran – terlebih di Mesir, di mana di sana muncul seruan dakwah untuk mendekatkan antara Sunni dan Rafidhah – mereka mengira bahwa Zhawahiri mengudzur mereka dengan kebodohan karena perkara-perkara sesat yang tidak termasuk syirik, hingga kemudian Zhawahiri terus di atas kesesatannya hingga tidak ada kelompok murtad kecuali dia membelanya terhadap Islam dan kaum Muslimin, aku berharap kepada Allah semoga menjadikan kebinasaannya di tangan para Ikhwan di Wilayah Khurasan.

[2]Vonis kafir dari para imam Daulah Islamiyyah kepada para pengikut pemilu adalah perkara masyhur, Imam Abu Mush’ab Az-Zarqawi- taqabbalahullah berkata; “… dan karena dorongan ini, dan juga lainnya, maka kami umumkan perang sengit kepada manhaj busuk ini, dan kami jelaskan hukum para pelaku aqidah bathil ini, dan jalan merugikan ini, maka siapa saja yang berusaha dalam menegakkan manhaj ini, dengan bantuan dan pertolongan, maka dia telah bertawalli kepadanya dan kepada para pelakunya, dan hukumnya sama seperti hukum orang yang menyeru kepadanya dan mendukungnya, dan orang yang mencalonkan diri untuk pemilu mereka adalah orang-orang yang mengaku memiliki sifat rububiyah dan uluhiyah, dan orang yang memilih mereka berarti telah menjadikan mereka sebagai arbab dan sekutu daripada selain Allah, dan hukum mereka di dalam agama Allah adalah kufur dan keluar dari Islam. Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikannya? Ya Allah saksikanlah! [Walitastabina sabilal-mujrimin].

[3]Abu Mush’ab As-Suri berkata, setelah panjang lebar berbicara seputar persengketaan antara dia dan harian Al-Hayat Saluliah (baca: Saudi_pent); “Sebagian ikhwan yang tulus menasihatiku untuk membawa harian Al-Hayat ke jalur hukum di hadapan hakim Inggris, dan itu tidak lebih dari mimpi khayalan, karena bagaiamana aku akan dapat membayar persidangan dan pengacara, aku tahu hal ini sebelumnya bahwa hal itu butuh dana yang hanya aku bisa dengar hanya di film-film saja! Tetapi itu bukan hanya film yang diwujudkan nyata oleh Allah, dan sebab masalah ini sudah dipastikan, dan Allah menghubungkan sebagian teman untuk meminjamkan dana pertama setelah aku meyakinkan sejumlah pengacara akan keuntungannya, dan terjadilah kesepakatan yang mengharuskan koran ini membayar denda dalam jumlah besar sebagai pengganti karena mereka mencemarkan nama baikku yang menyebabkan hidupku teancam bahaya, dan pengadilan Inggris dengan penuh integritas bisa untuk idpercaya … maka terjadilah perincian dan kejadian-kejadian dalam proses pengadilan itu yang tidak perlu untuk dituangkan di sini, akan tetapi hasilnya bahwa harian Al-Hayat setelah tidak dapat mendapatkan bukti apa pun atas tuduhannya yang berbahaya dan diberi tempo beberapa bulan, hingga menunjukkan keinginan damai, yang aku kemudian sepakat dengannya setelah tarik ulur sangat lama melalui perantara penulisnya, maka itu semua menghasilkan beberapa hal berikut: 1) Mereka harus menulis surat dan kesepakatan damai yang akan dicatat oleh mahkamah Inggris, bahwa semua yang dituduhkan kepadaku, dari berbagai tuduhan dan pencemaran, adalah murni dusta dan kebohongan akibat tidak adanya bukti dan kesalahan mereka dalam kode etik jurnalistik, dan bahwa mereka menyandarkan cerita dengan saksi yang tidak dapat dipercaya, dan bahwa aku terbebas dari setiap keustaan yang mereka nisbatkan kepadaku. 2) Untuk menyebarkan teks permintaan maaf dengan bahasa Arab di dalam koran mereka, yang menetapkan di dalamnya poin di atas juga, dan aku diperbolehkan untuk menulis permintaan maaf mereka kepadaku sesuai dengan apa yang aku suka! Dan inilah yang aku tulis dan aku paksa mereka untuk menyebarkannya. 3) Mereka harus membayar uang ganti rugi dari perbuatan buruk mereka. 4) Mereka harus membayar uang pengacara yang telah diberi wewenang dalam persidanganku. 5) Mereka harus membayar seluruh biaya persidangan secara total, terlebih terhadap apa yang mereka tanggung atas kelompok pengacara yang mereka sewa! Dan ini semua terjadi dengan pertolongan Allah, dan aku berhasil melunasi hutangku yang telah berlipat-lipat, hingga tersisa untukku dana yang aku gunakan untuk hijrah ke Afghanistan Thaliban dalam waktu singkat, Alhamdulillah. [Diringkas dari ‘Persaksianku Atas Jihad di Aljazair’].

Allah berfirman; “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah untuk kufur kepadanya”. [An-Nisa: 62].

Sulaiman ibn Abdullah ibn Muhammad ibn Abdul Wahhab – rahimahullah berkata; “Allah berfirman ‘Padahal mereka telah diperintah untuk kufur kepadanya’ yakni kepada thaghut, dan ini dalil bahwa tahakum kepada thaghut itu menafikan iman dan berlawanan dengannya, sehingga tidak sah keimanan kecuali dengan kufur kepada thaghut dan meninggalkan tahakum kepadanya, maka siapa yang tidak kufur kepada thaghut maka dia belumlah beriman kepada Allah. dan firman Allah “Dan setan bermaksud menyesatkan mereka dengan kesesatan sejauh-jauhnya’, yakni karena keinginan untuk bertahakum kepada selain kitabullah dan sunnah Rasul-Nya termasuk ketaatan kepada setan, dan dia tidak lebih menyeru para pengikutnya untuk menjadi penghuni neraka, dan di dalam ayat ini terdapat dalil bahwa meninggalkan tahakum kepada thaghut – yakni apa yang selain kitabullah dan sunnah Rasulullah – adalah termasuk kewajiban, dan bahwa bertahakum kepadanya berarti bukanlah seorang mukmin, bahkan bukan seorang muslim. [Taysir al-‘Aziz al-Hamid].

Berkata Sulaiman ibn Sahman; “Apabila engkau tahu bahwa tahakum kepada thaghut adalah kekufuran, dan Allah telah menyebutkan di dalam kitab-Nya bahwa kekufuran itu lebih besar dari pembunuhan, dengan berfirman; “Dan fitnah itu lebih besar dari pembunuhan’ dan berfirman “Dan fitnah itu lebih keras dari pembunuhan”. Fitnah: yakni kufur. Apabila antara penduduk desa dan kota saling membunuh hingga mereka mati semua, maka itu lebih ringan di sisi Allah daripada mereka menetapkan seorang thaghut untuk berhukum dengan yang menyelisihi Syariat Islam yang telah Allah utus Rasul-Nya dengannya … jika tahakum ini adalah kekufuran, sedangkan persengketaannya hanyalah masalah dunia, maka bagaimana boleh bagimu untuk kufur hanya karena itu? Maka sesungguhnya manusia itu tidak beriman, hingga dia menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai yang paling mereka cintai dari selain keduanya, dan hingga Rasulullah menjadi lebih dia cintai dari pada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia, maka seandainya seluruh harta duniamu lenyap, maka engkau tetap tidak boleh untuk bertahakum kepada thaghut demi untuk mendapatkannya kembali, jika engkau terdesak dan diberi pilihan antara bertahakum kepada thaghut atau harus menguras hartamu, maka engkau pasti lebih harus mengurasnya, dan tidak boleh bagimu untuk pergi bertahakum kepada thaghut.” [Ad-Durar As-Saniyyah].

[4]Untuk mengetahui hakikat Daulah Utsmaniyyah, rujuk kitab “Daulah Utsmaniyyah dan sikap dakwah Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab terhadapnya”, tulisan Syaikh Nashir al-Fahd – fakkallahu asrah. Dan setelah dinukil oleh Syaikh Abu Jandal Al-Azdi – taqabbalahullah – dan aku membaca risalah ini dengan judul “I’tidzar wa Faidah Muhimmah” dia berkata; “Dan darinya kamu tahu, siapa yang tertipu dengan Daulah ini dan menganggapnya sebagai benteng terakhir dari benteng-benteng Islam, yang dengan kehancurannya maka hilanglah izzah kaum muslimin! Dan sejarah yang jujur menetapkan hal lain dari itu”. [Silsilah ‘Alaqah Ad-Dauliah fie al-Islam 3], dan keadaan Daulah Utsmaniyah adalah yang paling nyata dalam perangnya terhadap tauhid di Hijaz dan Nejd, bahkan itu berhasil membunuh Imam Sulaiman ibn Abdullah ibn Muhammad ibn Abdul Wahhab – rahimahullah – dan yang lainnya dari para mujadid dan pemimpin dien.

[5]Catatan penerjemah: Dalam artikel aslinya, Abu Maysarah menggunakan kata Makhanits al-Jahmiyah. Dalam kitab “An-Nubuwwat” syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah mengutip perkataan salaf dengan mengatakan “Al-Asy’ariyah makhanitsu al-Mu’tazilah”. Makhanits berasal dari suku kata yang sama dengan kata “khuntsa”, yaitu seseorang yang memiliki sifat laki-laki dan perempuan. Al-Asy’ariyah disebut makhanits Mu’tazilah karena mereka mengambil dasar-dasar pemikiran kaum mu’tazilah walau tidak secara total. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Khalid al-Mushlih dalam Syarh ‘Aqidah Wasathiyah: “Karena itu dikatakan bahwa Mu’tazilah makhanits Jahmiyah, dan Asy’ariyah makhanits Mu’tazilah, karena mereka tidak secara total melakukan i’tizal, tapi tidak juga meniti jalan ahlus-sunnah wal-jama’ah, namun mereka melipat antara yang haq dan yang bathil”. Wallahu a’lam.

Wednesday, July 27, 2016

MASIH_ADA_SALAFI_GENTLE_‬?


-------
ada ikhwan salafi tag aku ditiap postinganx seperti foto ini,aku lbh suka y demikian,ini lebih fair dan gentle daripada mereka yang tidak berhujah, bisanya main lapor mrengek pada mark yahudi agar akunku disuspend.
--
menanggapi foto ini,bukankah dulu waktu aku pernah ikut kajian salafi sang ustadz mengharamkan demokrasi? oh ya,pernah aku klarifikasi ternyata mereka darurat ikut pemilu demi "MASLAHAT"
--
Pertanyaanya ,adakah maslahat y lebih besar daripada tauhid? adakah mudharot y lebih besar dari syirik?
--
lalu jika penguasa masi menjabat,namun kalian kampanyekan orang2 untuk tidak memilih penguasa yang jadi ulil amrimu sekarang,bukankah itu termasuk pemberontak sebagaimana kalian ngecap HT ,IM sebagai pemberontak/khawarij/bughot?
--
maka benarlah pernyataan Sayyid Qutb (ulama panutan PKS),"jika orang musryk jaman dulu membuat berhala dari patung,maka orang skrg lbh parah yakni menjadikan "maslahat" sebagai berhala "
--
lucunya PKS tak mendengarkan ulama panutannya ini dengan masuk dalam syirik demokrasi dan ber justifikasi " darurot demi maslahat"
--
anehnya lagi, Salafi yang DULU bersih dari syirik Demokrasi mereka mengolok olok Sayyid qutb sebagai khawarij takfiri,padahal Sayyid Qutb memilih mati (meninggalkan berhala "maslahat") daripada harus berbuat syirik walau sedikit saja.
--
ketika saat detik2 hukuman mati Sayyid qutb diberi pilihan, antara meminta maaf pada penguasa atau mati,kemudian Sayyid Quthb berkata, “Jari telunjuk yang setiap hari memberi kesaksian tauhid kepada Allah saat shalat menolak menulis satu kata pengakuan untuk penguasa tiran. Jika saya dipenjara karena kebenaran, saya rela dengan hukum kebenaran. Jika saya dipenjara dengan kebatilan, pantang bagi saya minta belas kasih kepada kebatilan.”
--
maka sangat pilu melihat akhwat2 bercadar salafi kini ada y mencelupkan jarinya kedalam tinta pemilu ternoda oleh demokrasi...
--
gt aja mereka mengolok2 sayyid qutb (panutan PKS y tidak dianut)
--
"“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)... QS.Al Hujuurat 11
--
Wahai orang salafi dan pks ,apa kalian mau mencampur adukan antara Islam (tauhid) dengan demokrasi (syirik)?
apa kalian suka minum madu yang bercampur racun?
--
Dan janganlah mencampuradukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah sembunyikan yang hak itu, sedangkan kamu mengetahui ” ( al-Baqarah : 42)
--
Maka kembalilah pada Islam tauhid y lurus...
Semoga Allah melapangkan dadaku dan dadamu untuk menerima kebenaran ini... aamiin
*jangan ramai ya? aku tinggal menjemput rezeki Allah Ar Rahman dahulu... :-)
--
"Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersama kamu (taubat dari syirik). Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan [Hûd/11: 112]
By : AsySyamJundulloh

Saturday, July 23, 2016

Pembodohan Masal


Ketika televisi bertransformasi menjadi alat penggiringan opini demi kepentingan penguasa Fira'un akhir zaman...
--
Dimana Islam kaffah dilabeli Extrimis...
Saat mujahid dicap teroris...
dan penegak syariat islam distempeli radikal...
sedang memegang fundamental Islam berarti cacat mental....
Sadarlah ini Berarti telah terjadi pembodohan massal ! !
--
Maka berhentilah mencari agama pada ustadz televisi y sudah disensor deradikalisasi alias proyek pendangkalan aqidah oleh penguasa tiran!
--
y mereka mengajarimu pembatal wudhu dan puasa,tapi tak pernah membahas pembatal keislaman!
--
y mengajarimu keharaman menyembah thagut dalam bentuk patung berhala,tapi menutupi kewajiban mengingkari hukum thagut dalam bentuk penguasa tiran seperti firaun dijaman Nabi Musa!
--
Yang mengajarimu bertololransi kepada musuh islam,dan menutup mata telah terjadi pembantaian2 !
--
Yang mendalilimu 1 hadist dhaif jihad hawa nafsu,dan membuang ratusan dalil Al Quran untuk jihad perang!
--
sungguh mereka hanyalah ulama anjing y menjual agama dngn murah kepada penguasa
--
QS.Al Araf
175. Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian Dia (ulama) melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah Dia Termasuk orang-orang yang sesat.176. Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir...
--
"Mereka menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah, lalu mereka menghalangi (manusia) darijalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan.(QS at-Taubah [9]: 9).
--
Maka jika engkau mencari kebenaran ajaran Agama di akhir zaman,maka carilah ulama di penjara-penjara penguasa thagut firaun akhir zaman!
--
Semoga Allah Ar Rahman meneguhkan Ustadz Abu Bakar Baasyr,Ustadz Aman Abdurrahman,dan semua ulama2 tauhid di akhir zaman... karena merekalah pewaris para nabi dan Rasul sungguhan! y mana mereka mengajak kamu untuk kufur pada penguasa thagut firaun akhir zaman! sedang inti dakwah Rasul memang itulah adanya...
--
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu",maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimukabumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan (azab) orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." QS.16;36

Thursday, March 31, 2016

Mengambil sebagian sistim jahiliyyah

Mengambil sebagian sistim jahiliyyah

Berikut perkataan mereka di bawah judul Sikap Kami Terhadap Sistem-Sistem Lain (dari kitab Syar’iyyatul Intikhabat halaman 19) :[ Namun apakah diharamkan jika kami mengambil sebagian dari sistem jahiliyah sedangkan yang sebagian ini merupakan sesuatu yang benar? Mereka berkata, yang demikian ini diperbolehkan kendati tidak sampai tingkatan wajib mengambil sebagian perkara yang benar dan bermanfaat lagi disyariatkan dari sistem jahili tersebut. Dalil kami tentang hal ini ada dua :
Mengambil sebagian sistim jahiliyyah

Pertama, masalah memberikan perlindungan –yakni seseorang mengumumkan bahwa dia melindungi si fulan dan dengan pengumuman si fulan tersebut berada di bawah perlindungannya–. Sistem jahili ini diambil oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya, Rasulullah radliyallahu ‘anhu telah ridha dengan perlindungan paman beliau, Abu Thalib dan kisah masuknya beliau ke Makkah dengan perlindungan Muth’im bin Adi. ]Saya katakan, kisah ini tidak shahih. Ibnu Ishaq meriwayatkannya dalam riwayat yang mu’dhal (sanadnya terputus di dua tempat atau lebih). Semua yang menyebutkannya seperti Ibnu Hisyam dan Ibnu Katsir berpegangan pada riwayat Ibnu Ishaq dan riwayat tersebut tidak shahih. Peneliti sejarah Nabi telah membantahnya meskipun kisah perlindungan Abu Bakar bersama Ibnu Daghnah shahih ada pada Bukhari dan selainnya. Yang lebih pantas bagi mereka –seandainya mereka perhatian dengan sanad yang bersih– untuk berdalil dengan yang shahih bukan dengan yang sanadnya telah jatuh. Ini adalah buah ucapan mereka :
“Zaman ini bukan zaman hadatsana wa akhbarana (telah menceritakan kepada kami dan telah mengkhabarkan kepada kami) dan kami tidak mau sibuk dengan ucapan mereka, ini hadits shahih atau lemah. Sesungguhnya ini membuang-buang waktu belaka.”

Sekarang saatnya kita mendiskusikan istidlal (pendalilan) ini dan pengakuan mereka bahwa ini adalah sistem jahili.Kami katakan, istidlal di atas tertolak dari beberapa sisi :

Pertama, kisah ini kalaulah shahih sekalipun tidak terkait sama sekali dengan konteks permasalahan yang sedang kita bicarakan.

Pertanyaannya di sini, apa korelasi antara masalah pemilu dengan perlindungan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di sisi Muth’im bin Adi? Bukankah kita tinggal di negeri- negeri kita sendiri? Kita tidaklah terusir dan tergusur. Segala puji bagi Allah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dahulu terusir, berbeda dengan kita. Istidlal ini tidak pada tempatnya dan tidak ada kaitannya dengan materi yang sedang kita bahas. Alangkah banyaknya kerusakan dalam agama apabila seperti ini yang mereka lakukan.

Kedua, kalaulah bisa diterima bahwa masalah perlindungan yang disebutkan di atas merupakan dalil bolehnya berpartisipasi dalam pemilu maka di sini ada satu persoalan lagi, pernahkah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengalah dalam perkara al haq? Yakni pada saat Muth’im bin Adi melindunginya.

Atau pernahkah beliau melakukan satu dari sekian banyak kerusakan-kerusakan (pemilu) seperti di atas?
Jawabnya :
Tidak! Bila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak pernah mengalah dari kebenaran –ini pun kalau dianggap kisah tersebut benar– lantas apakah orang- orang yang masuk pemilu mengalah dari kebenaran? Jawabannya, ya! Mereka mengalah dari sekian banyak hukum yang telah Allah syariatkan dalam rangka memenuhi cita-cita dan ambisi mereka. Mereka pun melakukan kerusakan- kerusakan yang banyak sebagaimana yang telah lalu pembahasannya secara rinci.

Ketiga, mereka mengatakan sesungguhnya kita boleh mengambil sistem kafir selagi sistem tersebut mengandung kebenaran. Saya katakan, perhatikan kata “benar” di sini. Kebenaran macam apa yang kalian ambil dari sistem pemilu? Bukankah telah kami katakan sesungguhnya menerima sistem pemilu itu berarti menjerumuskan diri ke dalam banyak kerusakan di antaranya adalah berbuat syirik kepada Allah pada banyak keadaan. Apa standar bagi yang “benar” itu? Adakah di dalam sistem aturan kafir sesuatu yang “benar” yang tidak terdapat di dalam Islam? Khususnya yang berkaitan dengan cara-cara menegakkan hukum Allah di muka bumi? Sebaliknya, justru pada sisi kitalah berbagai perkara menyangkut penjagaan hak- hak, perbaikan kondisi, menghilangkan keburukan, merealisasikan keadilan serta menebarkan agama Allah lebih banyak berkali lipat daripada yang dimiliki orang- orang kafir.

Allah Azza wa Jalla berfirman :”Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi kaum yang yakin?” (QS. Al Maidah : 50) Allah Azza wa Jalla berfirman :”Allah mengetahui dan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216)

Allah Azza wa Jalla berfirman :Katakanlah : “Hai ahli kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Rabb kamu. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabbmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.” (QS. Al Maidah : 68) Allah Azza wa Jalla berfirman : “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang- orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Jatsiyah : 18-19)

Allah Azza wa Jalla menginformasikan bahwa mereka tidak memiliki apa-apa kecuali hawa nafsu.
Apapun keadaannya, telah jelas bagi kita bahwa semua ini adalah kedustaan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta terhadap Islam tanpa ilmu, pemahaman, pendalaman dan sebabnya adalah mereka tidak mengembalikan permasalahan- permasalahan kepada para ulama yang terpercaya yang mampu memberikan solusi dari ketergelinciran. Saya sebutkan kepada mereka firman Allah Azza wa Jalla :
“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu.” (QS. Al Haqqah : 44-47)

Adapun dalil kedua yang kalian pergunakan yakni bolehnya mengambil sistem jahili secara parsial menurut anggapan mereka.Nash yang mendukung ucapan mereka adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :”Saya pernah hadir di rumah Abdullah bin Jad’an untuk bersekutu sebelum Allah memuliakanku dengan kenabian, hal ini lebih saya sukai daripada saya memiliki unta merah. Tokoh-tokoh Quraisy berkumpul dan bersekutu untuk menolong orang yang dianiaya di Mekkah. Andai saya diundang untuk hal seperti itu pasti saya akan mendatanginya.” Sisi pendalilannya bahwa mereka orang-orang yang berafiliasi pada sistem dan fanatisme jahiliyah berkumpul dengan tujuan yang terpuji yakni bahu-membahu untuk menolong orang yang teraniaya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membolehkannya dan memberkahinya. Demikian dikutip dari kitab Syar’iyyatul Intikhabat.

Saya berkata, adapun hadits tentang hadirnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada persekutuan orang-orang Quraisy telah diriwayatkan dari Imam Ahmad, Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, dan Hakim dishahihkan oleh Adz Dzahabi juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albani.
Syaikh Al Albani telah membawakan dua syahid untuk hadits tersebut. Lihat Kitab Silsilah Ahadits Shahihah (4/524). Dan hadits ini mempunyai syahid-syahid yang lain pada riwayat Thabrani dan lainnya. Kesimpulannya, hadits tersebut shahih. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menghadiri persekutuan ini dan mendukungnya namun sistem jahili apakah yang diadopsi oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam? Jawabannya, tidaklah terjadi bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengambil sesuatu dari persekutuan ini satu sistem pun dan satu permasalahan pun. Bagaimana mungkin boleh bagi mereka mengambil sistem demokrasi sebagian maupun seluruhnya sedangkan Nabi tidak pernah mengambil sedikitpun sistem kafir yang telah diharamkan oleh Islam.

Saya ringkaskan, jawaban terhadap istidlal mereka bahwa Nabi menyetujui sebagian persekutuan yang terjadi pada jaman jahiliyah adalah sebagai berikut : Para ulama telah berselisih dalam perkara hukum persekutuan ini. Di antara mereka ada yang mengatakan perkara ini telah dihapus oleh Islam dan Allah telah menggantinya dengan persaudaraan atas dasar agama. Dan juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :”Tidak ada persekutuan dalam Islam.” (Riwayat Muslim)

Di antara mereka ada yang berpendapat tidak terhapus dalam kaitan menolong orang yang teraniaya. Berdasarkan pendapat yang mengatakan tentang dihapusnya persekutuan tersebut maka kalian tidak mempunyai dalil dalam penetapan sebagian persekutuan-persekutuan jahiliyah Adapun berdasarkan pendapat yang mengatakan bahwa persekutuan itu tetap (tidak dihapus) maka kami tanyakan pada orang tersebut, apakah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melakukan suatu kerusakan dalam persetujuan beliau terhadap persekutuan-persekutuan ini? Apakah beliau juga pernah mengalah dalam dakwahnya dengan sebab-sebab persekutuan ini? Jika kalian mengatakan iya maka jelaskan kepada kami. Dan jika kalian mengatakan tidak maka itu yang betul. Lantas mengapa kalian berdalil dengannya untuk menunjukkan kebenaran sistem pemilu yang telah kami terangkan begitu banyak kerusakannya.

Kemudian kami bertanya kepada kalian apakah tatkala kalian katakan mengambil perkara parsial yang bermanfaat dan benar dan disyariatkan dari sistem jahiliyah adalah tidak mengapa?

Apakah kalian mencukupkan dengan perkara parsial yang bermanfaat menurut anggapan kalian ini? Atau kalian malah mengambil sistem demokrasi (seluruhnya)? Dan kalian ridha mengingkari kemungkaran menurut tata cara demokrasi?

Beritahu aku bagian-bagian demokrasi lainnya yang kalian tidak mau tunduk dan patuh kepadanya hingga kami bisa mengatakan bahwa kalian telah mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan telah berlepas diri dengan lisan dan perbuatan! Jika kalian mengatakan, kami mengingkari penentuan rakyat sebagai hakim. Saya katakan ini ucapan teoritis belaka! Bukankah secara praktik kalian menerima pendapat mayoritas anggota di majlis perwakilan?

Adapun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menghadiri persekutuan yang bermanfaat dan menetapkannya namun tetap berlepas diri (bara’) dari setiap perkara yang menyelisihi Islam, tidak mempraktikkannya, dan bahkan memboikot pelakunya, tempat-tempat dan sarana-sarana yang menghantarkannya. Alangkah jauhnya pemahaman orang generasi belakangan. Semoga Allah merahmati Salaf.